Print

Industri tekstil global saat ini masih harus berhadapan dengan situasi pasar yang menantang akibat pelemahan permintaan yang masih terus berlanjut. Berdasarkan rilis survei terbaru dari International Textile Manufacturers Federation (ITMF) melalui Global Textile Industry Survey (GTIS), tingkat keyakinan para pelaku anggota industri secara umum mengalami penurunan. Meskipun demikian, di tengah tekanan rantai pasok tersebut, kalangan merek dan peritel justru menunjukkan pengecualian dengan tingkat optimisme yang jauh lebih terjaga dibanding sektor lainnya.

Survei yang melibatkan berbagai perusahaan global dari seluruh rantai nilai tekstil ini menunjukkan bahwa hanya 10 persen responden yang menilai situasi bisnis mereka dalam kondisi baik. Sebanyak 53 persen menyatakan cukup puas, sementara 37 persen lainnya menilai situasi bisnis sedang memburuk. Hal ini menempatkan keseimbangan bisnis pada angka -26 poin persentase, melemah dari posisi -17 poin persentase pada bulan Mei sebelumnya. Kendati demikian, pencapaian kondisi saat ini masih terbilang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan titik terendah pada tahun 2023 silam, ketika industri mengalami kejenuhan inventaris pascapandemi yang diperparah oleh lonjakan inflasi.

Dinamika sentimen bisnis ini ternyata bervariasi secara signifikan menurut letak geografis dan segmen industri. Kawasan Asia Selatan mencatatkan outlook yang cenderung netal di angka -3 poin persentase, sedangkan kawasan Amerika Utara dan Tengah terpuruk hingga -58 poin persentase. Di sisi segmen bisnis, merek dan peritel mempertahankan aura positif di angka +11 poin persentase. Sebaliknya, produsen mesin tekstil menjadi segmen yang paling terpukul dengan perolehan -40 poin persentase, disusul oleh produsen garment yang rating bisnisnya merosot drastis dari +5 poin persentase pada bulan Mei menjadi -25 poin persentase.

Dari sisi volume pesanan, angka penerimaan pesanan baru ikut mengalami penurunan ke level -27 poin persentase dibandingkan -9 poin persentase pada bulan Mei. Rata-rata daftar pesanan tertunda (order backlogs) juga menyusut tipis ke kisaran 2,3 bulan, dengan tingkat utilisasi kapasitas global yang turun ke angka 71 persen. Meskipun tekanan operasional masih terasa, para pelaku industri melaporkan adanya perbaikan pandangan terhadap risiko dan biaya. Isu utama yang paling dikhawatirkan saat ini tetap berpusat pada lemahnya permintaan pasar yang dirasakan oleh 56 persen responden, serta ketidakpastian geopolitik yang dicemaskan oleh 46 persen responden. Sebaliknya, kekhawatiran terhadap lonjakan harga bahan baku, biaya energi, dan tarif bea masuk dilaporkan telah melandai secara signifikan.

Secara keseluruhan, hasil survei global ini mengindikasikan bahwa para pelaku industri tekstil dunia bersikap hati-hati namun tidak sampai merasa panik. Walaupun pabrikan mesin dan perusahaan di kawasan Amerika Utara merasakan tekanan paling berat, ekspektasi bisnis untuk paruh kedua tahun ini mayoritas berada dalam kisaran netral hingga optimis.