Print

Dunia manufaktur global tampak sedang menapak jalan pemulihan yang mantap di awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru dari UNIDO, output manufaktur dunia mencatatkan kenaikan impresif sebesar 3,1 persen secara tahunan pada kuartal pertama. Namun, di balik angka-angka pertumbuhan yang menggembirakan tersebut, terdapat ironi yang mencolok di lantai produksi pakaian jadi. Berbeda dengan sektor industri lainnya, produksi pakaian justru mengalami kontraksi hampir 3 persen, menciptakan kesenjangan struktural yang kini menjadi sorotan para pelaku industri dan analis pasar.

Pemulihan ekonomi yang terjadi tampaknya sangat selektif. Industri berbasis teknologi tinggi dan menengah mampu melesat dengan pertumbuhan 5,9 persen. Hal ini mematahkan asumsi klasik bahwa ekspansi industri yang cepat akan secara otomatis menarik sektor pakaian untuk tumbuh beriringan. Fenomena ini tidak hanya bersifat siklikal, melainkan mencerminkan perubahan mendalam pada preferensi konsumen dan strategi pengadaan global yang semakin kompleks. Data perdagangan dari TexPro memperkuat gambaran suram ini dengan mencatat kerugian ekspor senilai 1,16 miliar dolar AS dari sembilan ekonomi pemasok utama, di mana pakaian non-rajut menjadi penyumbang terbesar penurunan tersebut.

Di antara daftar pemasok yang terpukul, India dan Turkiye menempati posisi teratas sebagai negara dengan penurunan absolut yang signifikan. India mencatat pengurangan tajam sebesar 10,3 persen, sementara Turkiye menyusul dengan penurunan 8 persen. Keduanya secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga dari total kontraksi di sembilan negara yang dipantau. Menariknya, kelemahan ini tidak merata di seluruh dunia. Tiongkok mampu menjaga stabilitas ekspornya, bahkan Meksiko dan Mesir mencatatkan pertumbuhan tipis. Realitas ini menegaskan bahwa dunia tidak sedang mengalami eksodus massal dari industri pakaian, melainkan tengah menghadapi pergeseran drastis dalam distribusi pesanan dan pola permintaan produk.

Detail data menunjukkan bahwa empat kategori produk, terutama pakaian luar wanita non-rajut, menjadi beban terberat bagi neraca perdagangan global. Meskipun demikian, terdapat anomali kecil yang memberikan secercah harapan: pakaian rajut wanita justru mencatatkan pertumbuhan. Perbedaan nasib antara produk rajut dan non-rajut ini mengindikasikan bahwa faktor desain, siklus mode, serta strategi sourcing kini memiliki bobot yang sama pentingnya dengan permintaan konsumen secara umum.

Meskipun produksi global sempat menunjukkan tanda-tanda rebound pada April 2026 dengan kenaikan 2 persen, pemulihan tersebut masih sangat terbatas dan belum menular ke sektor perdagangan. Kasus India menjadi contoh paling ekstrem mengenai ketimpangan ini; di saat produksi tekstil hulu melonjak belasan persen, industri pakaian hilirnya justru terpuruk. Bagi para pelaku pasar, data ini menjadi pengingat keras: kapasitas berlebih di satu negara tidak bisa serta-merta menggantikan kerugian di tempat lain. Bagi para produsen, portofolio yang terlalu bergantung pada produk tenun kini membawa risiko yang jauh lebih besar. Industri pakaian tidak benar-benar menghilang dari peta pemulihan global, namun kini ia telah berubah menjadi salah satu ujian paling tidak menentu bagi stabilitas rantai pasok dunia.