Kinerja ekspor pakaian China mengalami sedikit penyesuaian pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data dari perangkat intelijen sumber TexPro, total nilai ekspor pakaian tercatat menyentuh angka US$69,888 miliar sepanjang Januari hingga Juni, turun tipis 1,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$70,717 miliar.
Kendati kawasan Asia Pasifik tetap menjadi pasar regional terbesar bagi produk garmen China, pengiriman ke wilayah ini mengalami penurunan signifikan sebesar 13,40 persen menjadi US$21,271 miliar. Kontribusi wilayah Asia Pasifik terhadap keseluruhan ekspor pakaian China pun menyusut sebesar 4,29 poin persentase menjadi 30,44 persen. Penurunan ini melanjutkan tren kontraksi jangka panjang yang telah terlihat sejak tahun 2023 silam.
Di sisi lain, kawasan Amerika Utara menunjukkan tren penguatan yang mendekati posisi Asia Pasifik. Ekspor pakaian China ke wilayah tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 7,94 persen menjadi US$18,655 miliar. Sementara itu, benua Eropa mempertahankan posisinya sebagai destinasi ekspor terbesar ketiga dengan pertumbuhan tipis 1,61 persen menjadi US$17,813 miliar. Kombinasi pasar Amerika Utara dan Eropa kini menyumbang lebih dari separuh total keseluruhan ekspor pakaian China.
Di luar pasar tradisional, benua Afrika mencatatkan lonjakan pertumbuhan tercepat di antara enam wilayah utama dengan kenaikan ekspor mencapai 20,98 persen menjadi US$5,016 miliar. Peningkatan serupa juga terjadi di kawasan Amerika Tengah dan Selatan yang tumbuh sebesar 9,08 persen. Pertumbuhan kuat di berbagai wilayah ini berhasil mengimbangi sebagian besar penurunan yang terjadi di pasar Asia Pasifik dan Timur Tengah.
Para analis menilai data perdagangan tersebut menunjukkan bahwa posisi ekspor pakaian China tidak mengalami penurunan secara merata, melainkan mengalami proses penyesuaian geografis yang dinamis. Adaptasi dan diversifikasi pasar di berbagai kawasan membuktikan ketahanan industri garmen China dalam menghadapi ketatnya persaingan perdagangan global saat ini.