Langkah strategis pemerintah di Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat dalam menggulirkan stimulus ekonomi mulai membuahkan hasil nyata pada sektor ritel pakaian. Berdasarkan laporan terbaru, penjualan ritel pakaian di ketiga negara tersebut berhasil mempertahankan pertumbuhan positif secara tahunan (year-on-year). Fenomena ini, ditambah dengan menipisnya stok inventaris global, memicu optimisme analis bahwa harga saham perusahaan tekstil dan pakaian yang sempat menyentuh level terendah kini siap untuk bangkit kembali.

Lembaga investasi terkemuka, Shinhan Investment Corp, dalam laporannya awal Januari 2026, mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor tekstil dan pakaian. Para analis melihat adanya momentum pemulihan yang kuat, terutama pada segmen pakaian wanita yang mencatat pertumbuhan hingga digit ganda di beberapa wilayah. Di Korea Selatan dan Amerika Serikat, tingkat inventaris pakaian saat ini berada pada titik terendah dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi perusahaan manufaktur (OEM) karena permintaan pengiriman barang diprediksi akan melonjak drastis guna mengisi kembali rak-rak toko yang mulai kosong.

"Daya tarik investasi pada perusahaan seperti Youngone Corporation diperkirakan akan semakin meningkat. Meskipun korelasi operasionalnya terhadap sentimen konsumen harian tergolong rendah, pertumbuhan penjualannya diproyeksikan melonjak signifikan berkat loyalitas klien-klien utama mereka," ujar Park Hyunjin, peneliti senior di Shinhan Investment Corp. Ia menambahkan bahwa situasi ini membuka peluang bagi ekspansi rasio harga terhadap pendapatan (price-earnings ratio) di pasar modal.

Di Korea Selatan, departemen store melaporkan pertumbuhan konsisten pada kategori pakaian wanita sebesar 5 persen setiap bulannya sejak pertengahan tahun lalu. Tren serupa juga terlihat di Tiongkok, di mana kebijakan stimulus domestik diperkirakan mendorong pertumbuhan ritel pakaian sebesar 3-5 persen. Momentum ini dimanfaatkan oleh sejumlah jenama global seperti F&F dan Gamsung Corporation untuk memperluas ekspansi pasar mereka ke Negeri Tirai Bambu tahun ini.

Meski demikian, bayang-bayang inflasi akibat kebijakan tarif perdagangan di Amerika Serikat tetap menjadi perhatian para pelaku pasar. Investor kini cenderung memusatkan perhatian pada perusahaan OEM yang memiliki efisiensi tinggi sembari memantau apakah daya beli konsumen global dapat bertahan menghadapi fluktuasi harga di kuartal mendatang. Kebangkitan ini menandai babak baru bagi industri mode yang kembali menjadi motor penggerak ekonomi setelah periode ketidakpastian yang panjang.