Industri mode global saat ini berada di persimpangan jalan yang krusial. Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh badan amal asal Inggris, War on Want, mengungkapkan kenyataan pahit di balik gemerlapnya panggung peraga: model bisnis ekstraktif yang dianut industri ini sedang mendorong sumber daya planet menuju ambang kehancuran. Laporan bertajuk "Can Fashion See Beyond Its Extractive Model?" ini menegaskan bahwa kebiasaan konsumsi "buang-pakai" bukan sekadar masalah gaya hidup, melainkan sistem yang dirancang untuk meraup keuntungan bagi korporasi besar di belahan bumi Utara dengan mengorbankan keadilan sosial dan ekologi di belahan bumi Selatan.
Data yang dikumpulkan dari basis data lingkungan global (Exiobase) menunjukkan angka yang mencengangkan. Sepanjang tahun 2021, penggunaan lahan untuk memenuhi kebutuhan mode Uni Eropa mencakup area seluas 226.930 kilometer persegi—setara dengan seluruh luas daratan Inggris Raya. Di saat yang sama, konsumsi mode di Inggris saja menghabiskan lahan seluas negara Belgia di wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Tak hanya lahan, konsumsi air bersih pun dikuras habis-habisan. Uni Eropa tercatat menyerap 5,45 miliar meter kubik air tawar dunia demi pakaian mereka, sementara produksi bahan sintetis seperti poliester menghabiskan puluhan ribu kiloton bahan bakar fosil.
Ruth Ogier, Kepala Program Internasional War on Want, menyatakan bahwa data ini adalah bukti mekanika ekstraksi yang selama ini tersembunyi. Menurutnya, negara-negara di Selatan sebenarnya tidak miskin sumber daya, namun kekayaan mereka dipindahkan secara paksa ke Utara. "Ini bukan hanya tentang skala produksinya, tapi tentang asalnya. Kami ingin menunjukkan bagaimana kekayaan itu bergerak keluar dari Selatan ke Utara," tegas Ogier. Ia juga merujuk pada temuan ekonom Jason Hickel yang menyebutkan bahwa negara-negara maju telah "menyedot" nilai tenaga kerja senilai triliunan dolar dari negara berkembang, sebuah angka yang sebenarnya cukup untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem di dunia hingga 70 kali lipat.
Kritik tajam dalam laporan ini juga menyoroti kegagalan inisiatif keberlanjutan atau penggantian material semata dalam mengatasi akar masalah. Masalah utamanya dianggap terletak pada sistem kapitalisme industri yang mengutamakan laba di atas segalanya. Ogier berpendapat bahwa karena produksi mode berorientasi sepenuhnya pada profit, industri ini secara struktural tidak mampu memberikan tanggapan yang mendalam terhadap isu keadilan ekonomi dan lingkungan. "Ini bukan benar-benar tentang pakaiannya. Ini tentang model bisnis yang secara inheren tidak mampu merespons krisis ini secara substantif," tambahnya.
Sebagai solusi radikal, laporan tersebut mengusulkan konsep degrowth atau pertumbuhan terkendali. Meskipun kata ini sering dianggap tabu dalam dunia bisnis, prinsipnya adalah mengutamakan kualitas dan umur panjang pakaian di atas kuantitas. Alih-alih memproduksi miliaran potong pakaian murah yang cepat rusak, industri didorong untuk menciptakan pakaian berkualitas tinggi dengan margin keuntungan yang lebih baik, atau beralih ke model layanan seperti penyewaan dan perbaikan. Langkah ini dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju "transisi yang adil" bagi pekerja, sekaligus menghentikan eksploitasi tanpa batas terhadap sumber daya alam demi memenuhi ambisi pasar global yang tak pernah puas.