Ancaman kenaikan biaya hidup di Amerika Serikat kini tidak lagi hanya menghantui sektor bahan bakar atau bahan pangan di kasir supermarket, melainkan telah merambah ke dalam lemari pakaian warga. Sebuah laporan terbaru dari Gold Institute for International Strategy memperingatkan adanya "panik harga" pada sektor pakaian menyusul pemberlakuan arsitektur tarif baru yang mulai berlaku sejak April 2025. Kebijakan ini disebut-sebut sebagai guncangan struktural terbesar bagi industri tekstil dalam satu abad terakhir.
Laporan bertajuk “Turning Tariffs into Opportunity” tersebut menyoroti bahwa tarif dasar sebesar 10 persen pada hampir semua impor, ditambah dengan tindakan timbal balik (reciprocal measures) yang melonjak hingga di atas 50 persen pada kategori tertentu, telah mengubah total peta ekonomi pengadaan pakaian. Data dari Yale Budget Lab memperkirakan tarif efektif rata-rata AS saat ini mencapai kisaran 18,6 hingga 22,5 persen—level tertinggi yang belum pernah terlihat lagi sejak tahun 1909 atau era Depresi Besar 1930-an.
Dampaknya terhadap konsumen sangat nyata. Gold Institute memproyeksikan bahwa paket tarif 2025 ini dapat mendongkrak harga pakaian sebesar 38 persen dalam jangka pendek. Bahkan dalam jangka panjang, harga diperkirakan akan tetap 17 persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya jika rantai pasok tidak segera melakukan penyesuaian drastis. Kondisi ini dipicu oleh ketergantungan industri pakaian yang sangat tinggi terhadap input lintas batas dan margin keuntungan yang sangat tipis.
Namun, di balik tekanan harga tersebut, Gold Institute melihat adanya peluang untuk merombak globalisasi. Alih-alih bergantung pada satu pusat otoriter seperti Tiongkok, laporan ini mengusulkan model pengadaan "banyak simpul, satu standar" yang tersebar di negara-negara demokratis. Koridor strategis yang diusulkan meliputi Bangladesh, Kenya, dan Peru. Bangladesh diposisikan sebagai jangkar produksi skala besar, Peru sebagai opsi nearshoring dengan akses bebas bea cukai, sementara Kenya bergantung pada perpanjangan Undang-Undang Pertumbuhan dan Peluang Afrika (AGOA).
"Doktrin America First pada akhirnya berupaya membentuk kembali globalisasi agar rantai nilai kritis memperkuat keamanan Amerika dan kemakmuran kelas menengah," tulis laporan tersebut. Strategi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada negara pesaing dengan menyebarkan produksi ke jaringan mitra yang berorientasi pada reformasi.
Untuk meredam gejolak harga, lembaga tersebut merekomendasikan sistem akreditasi “Trusted Textiles” yang memberikan jalur hijau pabean bagi pabrik-pabrik yang patuh pada standar lingkungan dan tenaga kerja. Dengan mengalihkan produksi ke koridor Global South yang terkoordinasi, AS diharapkan dapat membangun jaringan pasokan yang lebih tangguh dan selaras dengan nilai-nilai keamanan nasional, sekaligus mencoba menjinakkan inflasi yang kini mulai menggerogoti kantong para pembelanja di toko-toko ritel seluruh negeri.