Lanskap perdagangan tekstil dan pakaian jadi dunia mencatatkan sejarah baru pada penutupan tahun 2025. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Office of Textiles and Apparel (OTEXA) dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat, Vietnam secara resmi telah melampaui Tiongkok untuk menjadi pemasok terbesar di pasar Amerika Serikat. Pergeseran struktural ini menandai berakhirnya dominasi panjang Negeri Tirai Bambu yang selama puluhan tahun menjadi pemain tunggal tak tertandingi di industri mode Paman Sam.

Hingga akhir 2025, nilai total impor tekstil dan pakaian jadi (T&A) Amerika Serikat tercatat mencapai angka 104,05 miliar dolar AS. Meski secara keseluruhan angka ini mengalami sedikit penurunan sebesar 3,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dinamika di balik angka tersebut menunjukkan perubahan peta kekuatan yang drastis. Vietnam kini memimpin dengan pangsa pasar mencapai 17,71 persen, sementara Tiongkok terpuruk ke posisi kedua dengan pangsa yang terus merosot hingga menyentuh angka 16,96 persen.

Kejatuhan Tiongkok di pasar Amerika Serikat terlihat sangat mencolok, di mana pengiriman produk pakaian jadinya anjlok drastis hingga 35,61 persen. Para pengamat ekonomi menilai hal ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan dampak dari strategi diversifikasi rantai pasok global yang dilakukan secara masif oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko geopolitik yang kian memanas, menghindari tarif impor yang tinggi, serta menyiasati lonjakan biaya tenaga kerja di Tiongkok yang tak lagi kompetitif.

Seiring dengan meredupnya pamor Tiongkok, negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan justru mendulang untung besar. Kamboja mencatatkan lonjakan ekspor paling signifikan sebesar 26,95 persen, disusul oleh Bangladesh, Pakistan, dan Indonesia yang juga menunjukkan pertumbuhan positif. Indonesia sendiri berhasil memperkuat posisinya dengan kenaikan pengiriman pakaian jadi sebesar 9,67 persen, membuktikan bahwa daya saing manufaktur tanah air mulai mendapat tempat di tengah ketidakpastian global.

Seorang analis perdagangan internasional dari Peterson Institute for International Economics menyatakan bahwa tren ini menunjukkan bahwa para pembeli Amerika kini lebih memprioritaskan pemasok yang bersifat netral secara geopolitik dan memiliki keunggulan biaya. "Kita sedang menyaksikan pembentukan ulang peta manufaktur global. Vietnam dan negara-negara ASEAN lainnya bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pusat produksi utama yang baru bagi pasar Barat," ungkapnya.

Di sisi lain, penurunan impor non-pakaian jadi sebesar 7,92 persen mencerminkan sikap hati-hati konsumen Amerika di tengah perlambatan aktivitas perumahan dan rasionalisasi inventaris oleh para peritel. Produk berbasis serat buatan (man-made fibre) tetap mendominasi pasar dengan nilai 53,03 miliar dolar AS karena harganya yang lebih terjangkau dan ketersediaannya yang stabil sepanjang tahun. Fenomena ini mempertegas bahwa di tengah inflasi yang masih membayangi, efisiensi biaya tetap menjadi hukum tertinggi dalam perdagangan global saat ini.