Industri mode global sedang berada di ambang transformasi besar seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan. Tren recycled fashion atau pakaian hasil daur ulang kini bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan telah menjadi kekuatan utama di pasar arus utama. Berdasarkan data terbaru dari pemasok pakaian asal Inggris, A.M. Custom Clothing, terdapat lonjakan luar biasa sebesar 76 persen dalam produksi pakaian berbahan daur ulang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di tengah euforia material baru tersebut, serat alami seperti katun organik ternyata masih memegang kendali kuat dengan volume penggunaan tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan material daur ulang.

Fenomena ini mencerminkan dinamika menarik di mana konsumen mulai memburu pakaian yang ramah lingkungan, namun tetap enggan meninggalkan kenyamanan serat yang sudah mereka kenal. Ketertarikan publik pun tervalidasi melalui data Google Trends yang mencatat kenaikan pencarian kata kunci "fashion berkelanjutan" hingga 222 persen menjelang gelaran Fashion Week bulan Februari lalu. Meski demikian, para pelaku industri melihat bahwa keberlanjutan tidak lagi hanya soal mengganti bahan lama dengan bahan baru, melainkan tentang ketahanan dan performa pakaian dalam jangka panjang.

Alex Franklin, pendiri A.M. Custom Clothing, menjelaskan bahwa saat ini terjadi pergeseran ekspektasi yang signifikan di kalangan merek mode. Menurutnya, perusahaan-perusahaan kini berpikir lebih serius mengenai konsep sirkularitas, yakni tidak hanya fokus pada bagaimana sebuah pakaian dibuat, tetapi juga seberapa lama pakaian tersebut dapat bertahan dan digunakan oleh konsumen. Franklin menekankan bahwa katun tetap menjadi pilihan utama karena rantai pasoknya yang sudah mapan dan sertifikasi seperti Fairtrade yang lebih mudah dipahami oleh pembeli. Di sisi lain, bahan daur ulang seperti poliester (RPET) mulai menemukan tempatnya pada sektor pakaian olahraga yang membutuhkan fitur tahan air dan cepat kering.

Menariknya, perubahan perilaku ini juga dipicu oleh tekanan biaya hidup yang membuat pembeli lebih kritis. Kini, banyak konsumen mengadopsi pola pikir cost-per-wear, di mana mereka lebih memprioritaskan kualitas dan daya tahan dibandingkan harga awal yang murah. Hal ini memaksa merek-merek besar untuk menilai kembali strategi material mereka, tidak hanya demi memenuhi regulasi lingkungan yang kian ketat, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan fungsional pemakainya.

Senada dengan tren tersebut, para ahli lingkungan sering kali menekankan bahwa bahan terbaik adalah bahan yang tidak berakhir di tempat pembuangan sampah setelah beberapa kali pakai. Serat berbasis tanaman lainnya seperti linen dan viscose juga mengalami pertumbuhan penggunaan yang stabil dalam lima tahun terakhir karena dampak lingkungannya yang rendah. Pada akhirnya, masa depan mode berkelanjutan tampaknya tidak akan bertumpu pada satu jenis material "ajaib" saja. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan merek dalam menyeimbangkan berbagai jenis material berkelanjutan guna menciptakan koleksi yang tidak hanya ramah bumi, tetapi juga nyaman dan tahan lama bagi sang pemakai. Sebagaimana ditegaskan oleh Franklin, esensi dari mode berkelanjutan adalah memilih material terbaik bagi pengalaman pengguna, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.