Eropa kini tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi krisis limbah tekstil yang kian menggunung. Di tengah dominasi tren fast fashion, sebuah laporan terbaru dari Boston Consulting Group (BCG) dan inisiatif ReHubs memberikan peringatan keras: ambisi membangun ekonomi tekstil sirkular di benua tersebut membutuhkan investasi raksasa hingga 11 miliar euro atau sekitar 190 triliun rupiah pada tahun 2035. Tanpa suntikan modal besar-besaran, upaya mengubah pakaian bekas menjadi serat baru hanya akan menjadi angan-angan semata.

Saat ini, situasi limbah di Eropa berada pada level yang mencemaskan. Wilayah tersebut menghasilkan sekitar 15,2 juta ton limbah tekstil per tahun, namun faktanya kurang dari 1 persen yang berhasil didaur ulang kembali menjadi pakaian baru. Robert van de Kerkhof, CEO ReHubs, menyoroti bahwa ekspektasi perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi ternyata meleset. Bukannya berkurang, konsumsi pakaian justru terus melonjak dengan rata-rata warga Eropa membeli 95 potong pakaian per tahun—naik 12 persen sejak 2019.

"Masalah limbah ini diperparah oleh kebangkitan fast fashion—pakaian berbiaya sangat rendah dengan desain yang berubah sangat cepat—yang berujung pada volume produksi tinggi namun masa pakai yang sangat rendah," ujar Van de Kerkhof. Ia menambahkan bahwa semakin rendah kualitas garmen, semakin sulit pakaian tersebut untuk diperbaiki atau dijual kembali, sehingga langsung membanjiri sistem pembuangan sebagai sampah.

Laporan bertajuk "Advancing Textile Circularity" tersebut menekankan bahwa industri tekstil harus mencapai "titik balik" volume daur ulang sebesar 2,7 juta ton per tahun agar proses tersebut menjadi layak secara ekonomi. Untuk mencapainya, dibutuhkan koordinasi yang belum pernah ada sebelumnya antara merek ritel, produsen, dan pendaur ulang. Tantangannya bukan hanya infrastruktur, tetapi juga fakta bahwa serat hasil daur ulang kemungkinan besar tidak akan pernah mencapai harga semurah serat "perawan" atau bahan baku baru dari minyak bumi.

Evan Wiener, penasihat dewan ReHubs, menegaskan bahwa mengejar kesetaraan harga bukanlah tujuan yang realistis. Sebaliknya, serat daur ulang harus dipandang sebagai kategori produk baru dengan struktur nilai tersendiri. Namun, tanpa insentif regulasi dari Uni Eropa—seperti kewajiban penggunaan konten daur ulang pada setiap pakaian yang dijual—investasi swasta sulit untuk masuk karena model bisnisnya belum terlihat menguntungkan secara mandiri.

Selain isu lingkungan, krisis ini juga menjadi pertaruhan strategi industri bagi Eropa. Jika Eropa gagal membangun kapasitas daur ulang domestik, peluang ekonomi ini akan diambil oleh wilayah lain yang memiliki strategi investasi lebih agresif. Sebaliknya, kesuksesan dalam sirkularitas tekstil akan memberikan ketahanan sumber daya, memungkinkan Eropa untuk mempertahankan bahan baku berharga di dalam ekonominya sendiri daripada terus bergantung pada impor yang fluktuatif. Menyadari kompleksitas ini, ReHubs kini menggeser target pencapaian kapasitas daur ulang skala besarnya dari tahun 2030 ke tahun 2035, demi memastikan fondasi yang lebih kuat bagi masa depan mode yang lebih hijau.