Menteri Perdagangan dan Industri India, Piyush Goyal, mendesak industri tekstil dan garmen nasional untuk agresif melakukan substitusi impor guna mendukung target ekspor barang dan jasa USD 1 triliun tahun ini. Seiring lonjakan populasi kelas menengah domestik, ketergantungan pada kain, barang modal, dan mesin rajut impor harus dipangkas agar pasar tidak dikuasai produk asing.
Hingga tahun fiskal 2025/2026, ekspor komoditas India tumbuh 5% mencapai USD 863 miliar. Guna memperluas skala ekonomi, kluster tekstil strategis seperti Ludhiana, Surat, dan Tirupur didorong mengoptimalkan teknologi lokal dan memantau data portal dagang untuk membidik peluang produksi domestik.
Melalui penguatan semangat Swadeshi (mencintai produk sendiri), industri garmen India—yang menyerap jutaan tenaga kerja—diarahkan untuk mandiri menghadapi tantangan global. Langkah ini diperkuat dengan investasi besar pada modernisasi mesin pemintalan dan hilirisasi serat sintetis ramah lingkungan guna memastikan produk lokal mampu bersaing secara kualitas dan harga di pasar internasional.
Namun kondisi yang berkebalikan terjadi Indonesia dimana trend pertumbuhan impor dalam 15 tahun terakhir jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekspornya sehingga neraca perdaganganyannya cenderung terkikis hingga menjadi negatif.
Berdasarkan data perdagangan dari BPS, neraca volume perdagangan TPT tahun 2025 sudah bertahun-tahun mengalami defisit. Bahkan meski secara nilai neracanya masih positif, apabila dihitung dengan importasi ilegal, importasi mesin dan suku cadang hingga importasi petrokimia serta bahan kimia penolong lainnya, lalu lintas devisa neraca perdagangan disektor ini sudah negatif sekitar USD 2 milyar. Padahal 15 tahun yang lalu perdagangan disektor ini masih surplus sekitar USD 8 Milyar.
Direktur Eksekutif Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Rayon Tekstil (KAHMI Tekstil), Agus Riyanto menyatakan bahwa rendahnya utilisasi industri disektor TPT sebagai akibat kebijakan impor yang tidak terkontrol karena permainan antara segelintir pemain industri pemburu rente dengan oknum birokrasi. “Bertahun-tahun mereka bersama-sama menikmati rente dari praktik impor, menghancurkan produsen dalam negeri dengan praktik dumping dan under invoice yang secara berangsur membuat rupiah melemah hingga menggagalkan program substitisi impor yang mereka kampanyekan sebelumnya” jelas Agus.