Pasar kapas global baru saja melewati periode yang cukup dinamis dalam satu bulan terakhir, ditandai dengan koreksi harga yang cukup signifikan setelah sempat mencapai titik tertinggi pada pertengahan Mei lalu. Lonjakan harga yang terjadi pada 11 Mei, di mana kontrak berjangka NY/ICE Juli sempat menyentuh angka 88 sen per pon, kini telah mengalami tekanan balik. Sejak saat itu, nilai pasar sempat tergelincir hingga mencapai level 71 sen per pon pada 10 Juni, meski belakangan sempat menunjukkan sedikit pemulihan ke kisaran 72 sen. Tren serupa juga terlihat pada kontrak Desember, yang mencatat pelemahan dari puncak 88 sen ke level sekitar 76 sen per pon dalam perdagangan terbaru.

Dinamika pelemahan harga ini tidak hanya terjadi di bursa berjangka Amerika Serikat, tetapi juga tercermin pada indeks global lainnya. A Index, yang menjadi acuan dunia, mengalami penurunan dari 95 menjadi 84 sen per pon sepanjang bulan lalu. Begitu pula dengan indeks kapas China (CC Index 3128B) yang menyusut dari 121 menjadi 116 sen per pon, seiring dengan pergerakan mata uang Yuan terhadap Dolar AS. Di India, harga kapas pun ikut melemah dari 88 sen menjadi 82 sen per pon. Di tengah arus penurunan harga di berbagai belahan dunia, Pakistan justru menjadi pengecualian yang menarik perhatian karena harga di pasar domestiknya tetap stabil di angka 94 sen per pon, didukung oleh nilai tukar Rupee yang relatif terjaga.

Laporan terbaru dari USDA memberikan gambaran lebih luas mengenai kondisi fundamental pasar kapas untuk periode 2026/2027. Angka produksi global diproyeksikan tetap stabil di kisaran 116 juta bal, sementara konsumsi pabrik justru mengalami sedikit peningkatan. Namun, revisi terhadap estimasi stok awal yang lebih rendah memicu proyeksi pengurangan stok akhir global sebesar 711.000 bal menjadi 71,1 juta bal. Angka ini menandakan bahwa volume persediaan dunia saat ini berada di level yang cukup rendah jika dibandingkan dengan rata-rata sepuluh tahun terakhir, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar di masa depan.

Perubahan pada sisi permintaan di tingkat negara juga menunjukkan pergeseran perilaku konsumsi dan perdagangan. Revisi besar terlihat pada angka konsumsi pabrik di China yang naik sebanyak 500.000 bal, sementara Pakistan dan Bangladesh mengalami penurunan estimasi konsumsi. Di sisi ekspor, Brasil dan Amerika Serikat mencatat peningkatan pengapalan, memberikan sinyal mengenai ke mana arah aliran komoditas ini akan bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi.

Para analis melihat bahwa faktor cuaca, terutama perbaikan kondisi kelembapan di wilayah pertumbuhan kapas Amerika Serikat, menjadi salah satu pemicu utama koreksi harga setelah kenaikan yang terlalu cepat. Selain itu, posisi spekulan di pasar yang sebelumnya sangat agresif mengambil posisi beli (net-long) hingga mencapai 90.000 kontrak pada awal Mei, kini mulai menyesuaikan diri seiring dengan melandainya antusiasme pasar. Di luar faktor teknis dan cuaca, tantangan jangka panjang yang membayangi pasar kapas global adalah potensi tekanan pada pengeluaran konsumen akibat biaya energi yang tinggi. Kenaikan biaya hidup ini dikhawatirkan akan membatasi daya beli masyarakat terhadap produk-produk kebutuhan sekunder, termasuk pakaian, yang pada akhirnya dapat menekan permintaan global di masa depan.