Print

Industri fesyen global kini berada di tengah pusaran perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Jika pada masa lalu siklus tren fesyen berjalan lambat dengan musim-musim yang terdefinisi jelas, era digital dan media sosial saat ini membuat segalanya terjadi secara serentak. Siklus tren bergerak begitu cepat, di mana para konsumen yang terus-menerus memindai linimasa daring dapat menghabiskan tren dalam sekejap. Di tengah gempuran tren mikro yang berumur pendek serta disrupsi rantai pasok yang tidak pernah berkesudahan, kecepatan menuju pasar serta visibilitas inventaris menjadi kunci mutlak bagi merek fesyen agar tetap relevan dan kompetitif.

Menghadapi tantangan kompleks ini, Jennifer Brox selaku direktur solusi perencanaan di Blue Yonder—sebuah perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang menyediakan manajemen rantai pasok digital—membagikan pandangannya mengenai solusi cerdas bagi pasar produk softlines. Menurut Brox, kehadiran teknologi kecerdasan buatan dan ilmu data (data science) sangat membantu merek fesyen dalam membedakan antara tren mikro yang bersifat sementara dengan pergeseran permintaan konsumen yang menghasilkan margin tinggi sebelum semuanya terlambat. Melalui pemanfaatan algoritma paten dan model pembelajaran mesin (machine learning), platform perencanaan permintaan Blue Yonder terbukti mampu meningkatkan akurasi perkiraan hingga 12 persen, mendongkrak efisiensi perencana barang hingga 75 persen, serta memangkas biaya dan pengeluaran sebesar 50 persen.

Selain masalah tren, lingkungan ritel omnikanal sering kali memicu salah penempatan inventaris yang berujung pada kekosongan stok di satu saluran namun memicu penurunan harga drastis di saluran lain. Untuk mengatasi hal tersebut, solusi alokasi dan pengisian ulang berbasis kecerdasan buatan dari Blue Yonder memberikan visibilitas terpusat secara real-time mengenai kondisi inventaris, pasar, dan permintaan pelanggan. Sistem cerdas ini mampu memantau kecepatan penjualan suatu produk di setiap lokasi secara langsung, sehingga toko dengan penjualan cepat dapat terus terisi tanpa harus menciptakan kelebihan inventaris di tempat lain.

Kerentanan rantai pasok fesyen yang kerap diguncang oleh konsentrasi sumber geografis, potensi pergeseran tarif, hingga lonjakan biaya bahan baku juga dijawab melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan perencanaan dan eksekusi rantai pasok. Menara kontrol digital (digital control towers) yang didukung oleh kecerdasan buatan mampu memberikan visibilitas penuh, berfungsi sebagai sistem peringatan dini guna membantu organisasi mengidentifikasi gangguan secara cepat dan mengevaluasi langkah mitigasi optimal. Tidak kalah penting, pengelolaan logistik balik (reverse logistics) yang kerap menjadi titik erosi margin keuntungan diatasi melalui manajemen pengembalian cerdas yang secara otomatis memperbarui sistem gudang agar barang retur dapat segera dikembalikan ke saluran penjualan pada musim yang sama.

Pada akhirnya, industri fesyen akan selalu membutuhkan "seni" berupa kreativitas dan intuisi manusia dalam perancangan busana. Namun, di era disrupsi ini, keputusan kreatif tersebut harus didukung oleh ketepatan data. Dengan menjembatani intuisi desainer dan kekuatan analitis kecerdasan buatan dalam satu platform rantai pasok yang terintegrasi, merek fesyen dapat membangun ketahanan bisnis yang lebih lincah dan berorientasi pada profitabilitas.