Print

Bahan polyester selama ini menjadi primadona industri mode global karena harganya yang murah, sifatnya yang lentur, dan ketersediaannya yang melimpah. Namun, di balik kenyamanan pakaian berbahan sintetis tersebut, tersimpan dampak lingkungan dan sosial yang sangat merusak. Lembaga nirlaba global, Textile Exchange, baru saja merilis studi komprehensif Life Cycle Assessment (LCA) terbaru yang memetakan jejak karbon serta dampak sistemik dari produksi serat polyester, baik berbahan virgin (virgin) maupun daur ulang.

Untuk pertama kalinya, studi ini membuka data publik mengenai dampak lingkungan dari produksi polietilena tereftalat (PET) virgin di Asia Tenggara—wilayah yang memasok lebih dari separuh kebutuhan PET dunia—sekaligus menggunakan pendekatan "LCA+" yang secara berani menyoroti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di sepanjang rantai pasoknya.

Hasil penelitian ini mengungkap bahwa jejak kerusakan lingkungan sangat bergantung pada metode produksinya. Pada polyester virgin berbahan dasar fosil, polusi terbesar berasal dari ekstraksi zat petrokimia mentah serta tingginya emisi dari penggunaan energi batu bara. Sementara itu, pada metode daur ulang termomekanis dan kimia, titik kritis emisi justru bergeser pada borosnya konsumsi listrik saat mesin bekerja, penggunaan zat kimia pelarut yang beracun, serta emisi transportasi akibat pengiriman limbah tekstil dari jarak yang sangat jauh. Menanggapi temuan ini, Chief Impact Officer Textile Exchange, Beth Jensen, menegaskan bahwa data ini menjadi fondasi kuat bagi merek mode dunia untuk segera menghentikan ketergantungan mutlak pada bahan baku berbasis fosil murni demi menyelamatkan ekosistem bumi.

Aspek yang paling mengejutkan dari laporan ini adalah pengungkapan dampak sosial yang kerap disembunyikan oleh industri tekstil. Proses ekstraksi minyak dan gas untuk polyester virgin di berbagai belahan dunia dilaporkan kerap memicu konflik berdarah, termasuk tindakan kekerasan oleh aparat penegak hukum terhadap komunitas lokal demi mengamankan ladang minyak. Di pabrik-pabrik pengolahan, para buruh rentan mengalami gangguan kesehatan kronis akibat tumpahan zat kimia, lingkungan kerja yang tidak aman, hingga maraknya kasus kekerasan berbasis gender. Bahkan, sektor daur ulang botol plastik PET yang selama ini digaungkan sebagai solusi "hijau" ternyata masih sangat informal dan minim regulasi, sehingga rawan mengeksploitasi pekerja anak dan pemulung tanpa jaminan kesejahteraan yang layak.

Para pengamat keberlanjutan mode menekankan bahwa industri tekstil global tidak bisa lagi menutup mata dan hanya fokus pada proses di dalam pabrik daur ulang saja. Jaringan pengumpulan sampah yang ada di hulu harus dibenahi agar dapat melindungi penghidupan semua orang yang terlibat. Guna memutus rantai kerusakan ini, Textile Exchange mendesak pemilik merek dan peritel besar untuk berinvestasi langsung pada teknologi penyortiran limbah lokal demi meminimalkan emisi transportasi, serta melakukan penelusuran rantai pasok secara transparan hingga ke akar hulu. Masa depan mode berkelanjutan tidak akan pernah tercapai jika pakaian ramah lingkungan yang dipakai konsumen di satu belahan dunia, diproduksi dengan mengorbankan ruang hidup dan hak asasi manusia di belahan dunia lainnya.

Menanggapi hasil studi ini, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat Benang Filament Indonesia (APSyFI) yang juga merupakan bagian dari Federasi Industri Serat Kimia Asia (ACFIF) menyatakan bahwa semua jenis bahan baku tekstil juga berdampak pada alam baik dalam proses pembuatannya maupun limbah olahannya. “Pada produksi kapas misalnya yang memerlukan jumlah air yang sangat banyak untuk menumbuhkannya sementara dibelahan bagian dunia lain banyak orang yang kekurangan air untuk hidup” jelas Redma. Maka dari sisi ini Redma melihat juga ada porsi kerusakan hingga pelanggaran HAM.

Namun pihaknya juga setuju jika kita harus terus mengurangi dampak buruk dari proses manufaktur. Seperti halnya dalam konferensi ACFIF bulan lalu di penang Malaysia yang mengusung tema sustainability, sebagai komitment produsen-produsen polyester untuk mengurangi dampak bagi lingkungan. “Dan sepemahaman saya, hal ini juga dilakukan oleh para produsen di Eropa” pungkasnya.