Pasar pakaian bekas atau second-hand di kawasan Amerika Tengah, khususnya di Guatemala dan Nikaragua, mencatatkan pertumbuhan yang luar biasa pada awal tahun 2026. Fenomena ini tidak lagi sekadar menjadi pasar sampingan, melainkan telah bertransformasi menjadi ekosistem ritel baru yang signifikan dan memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi lokal. Lonjakan permintaan ini didorong oleh kombinasi antara tekanan inflasi yang membatasi daya beli masyarakat terhadap barang baru serta meningkatnya kesadaran kolektif mengenai keberlanjutan lingkungan dan pengurangan limbah tekstil di kalangan generasi muda.
Di Guatemala City dan Managua, gerai pakaian bekas kini tampil lebih profesional, menyerupai butik ritel modern yang menawarkan barang-barang kurasi berkualitas tinggi asal Amerika Utara. Konsumen mulai menyadari bahwa dengan harga yang jauh lebih terjangkau, mereka bisa mendapatkan pakaian bermerek dengan ketahanan material yang seringkali lebih baik dibandingkan produk ultra-fast fashion. Pergeseran perilaku konsumen ini menciptakan peluang bisnis baru bagi ribuan wirausahawan lokal yang mengimpor bal pakaian dari Amerika Serikat dan Kanada untuk kemudian disortir dan dijual kembali melalui platform digital maupun toko fisik.
Pakar ekonomi regional menyoroti bahwa industri pakaian bekas di Amerika Tengah telah menjadi katup pengaman ekonomi bagi kelas menengah ke bawah di tengah ketidakpastian harga global. "Kita sedang melihat demokratisasi mode di mana kualitas tidak lagi harus dibayar dengan harga selangit," ujar Maria Zelaya, seorang pengamat ekonomi pasar berkembang di wilayah tersebut. Menurutnya, pertumbuhan sektor ini juga didukung oleh efisiensi rantai pasok logistik yang semakin mapan antara Amerika Utara dan koridor Amerika Tengah, memungkinkan aliran barang bekas yang stabil dan berkelanjutan.
Selain faktor ekonomi, narasi mengenai "mode lambat" (slow fashion) mulai berakar kuat. Banyak konsumen muda di Nikaragua kini memandang penggunaan pakaian bekas sebagai pernyataan gaya hidup yang etis. Mereka bangga dapat memperpanjang usia pakai sebuah pakaian guna mengurangi jejak karbon industri tekstil. Meskipun industri ritel pakaian baru menghadapi tantangan dari tren ini, para pelaku usaha di sektor pakaian bekas justru optimistis bahwa pasar ini akan terus berkembang menjadi pilar ekonomi kreatif di Amerika Tengah, yang tidak hanya mengandalkan konsumsi, tetapi juga proses sirkularitas yang lebih ramah lingkungan.