Print

Lanskap perdagangan tekstil dunia mencatatkan sejarah baru pada tahun 2025. Berdasarkan analisis pasar global terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), India telah resmi menggeser posisi Tiongkok sebagai pemasok produk kapas terbesar—termasuk pakaian jadi dan tekstil rumah tangga—ke pasar Amerika Serikat. Pergeseran ini menandai berakhirnya era dominasi Negeri Tirai Bambu yang telah bertahan selama bertahun-tahun, sekaligus mengukuhkan posisi India sebagai penerima manfaat utama dari strategi "China Plus One" yang tengah diadopsi oleh banyak perusahaan global.

Data USDA menunjukkan bahwa volume impor produk kapas AS pada tahun 2025 relatif stabil di angka 3,3 juta ton, namun komposisi negara asalnya berubah secara drastis. Impor dari Tiongkok menyusut hingga menyentuh angka 0,5 juta ton, sementara India melesat melampauinya dengan volume sekitar 0,6 juta ton. Kejatuhan pangsa pasar Tiongkok ini bukanlah tanpa alasan; serangkaian tarif tinggi yang diterapkan pemerintah AS mulai dari 10% hingga 125% telah membuat produk asal Tiongkok kehilangan daya saing harganya. Sebaliknya, India dan negara pesaing lainnya seperti Vietnam serta Bangladesh menikmati tarif yang jauh lebih rendah, bahkan kurang dari setengah tarif tertinggi yang dikenakan pada Tiongkok.

Selain faktor harga, kebijakan non-tarif juga memainkan peran krusial dalam jatuhnya dominasi Tiongkok. Implementasi Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur (UFLPA) serta meningkatnya persepsi risiko geopolitik telah memaksa peritel besar Amerika Serikat untuk memangkas ketergantungan mereka pada rantai pasok Tiongkok. Di sisi lain, USDA mencatat bahwa India memiliki keunggulan strategis berupa rantai pasok tekstil yang terintegrasi secara vertikal. Hal ini memberikan kemampuan lebih bagi perusahaan-perusahaan India untuk mematuhi standar ketertelusuran (traceability) yang kian ketat di pasar internasional.

Tren ini diperkirakan akan terus menguat pada tahun 2026. Meskipun impor secara keseluruhan sempat tertahan karena peritel berusaha meminimalkan biaya inventaris di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan, permintaan konsumen di Amerika Serikat sebenarnya tetap kuat dengan kenaikan penjualan ritel pakaian sebesar 5%. Dengan tingkat stok inventaris yang saat ini rendah dan permintaan yang stabil, arus impor produk kapas ke AS diprediksi akan kembali meningkat tahun depan. India, dengan stok akhir kapas yang melimpah dan sistem produksi yang mapan, berada di posisi terdepan untuk terus memperlebar jarak dengan para pesaingnya dan mendominasi lemari pakaian konsumen di Amerika Serikat.