Sektor tekstil Amerika Serikat saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan antara kepunahan dan kebangkitan. Setelah dihantam badai geopolitik dan ketidakpastian ekonomi yang memaksa 40 pabrik tutup dalam waktu kurang dari dua tahun, industri yang menjadi tulang punggung bagi lebih dari 450.000 pekerja ini mulai menyusun kekuatan baru di Washington. Dengan nilai pengiriman yang menyusut menjadi $60,9 miliar pada tahun lalu, para pelaku industri kini menaruh harapan besar pada sinergi politik di bawah administrasi Trump untuk mengembalikan kejayaan manufaktur domestik.
Optimisme ini terpancar kuat dalam pertemuan tahunan National Council of Textile Organizations (NCTO) di ibu kota negara baru-baru ini. Chuck Hall, Ketua NCTO sekaligus CEO Barnet, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi intensif dengan para petinggi negara, mulai dari Menteri Keuangan Scott Bessent hingga Perwakilan Dagang AS (USTR) Ambassador Jamieson Greer. Fokusnya jelas: mengangkat status tekstil dari sekadar komoditas pakaian menjadi sektor strategis yang berkaitan langsung dengan keamanan nasional. Hall menegaskan bahwa meski fundamental ekonomi sedang melemah, industri tekstil AS telah membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi disrupsi global.
Salah satu kemenangan krusial yang diraih industri sepanjang tahun 2025 adalah dihapusnya ketentuan perdagangan de minimis—celah yang selama ini dimanfaatkan produk impor murah untuk membanjiri pasar AS tanpa bea masuk. Selain itu, adanya pembaruan minat pemerintah untuk mewajibkan penggunaan produk buatan Amerika bagi angkatan bersenjata melalui perlindungan Berry Amendment memberikan napas baru bagi para produsen. Bagi Hall dan para anggota NCTO, perjuangan tahun 2026 adalah tentang penegakan hukum yang lebih ketat, terutama terkait Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur (UFLPA) dan investigasi Section 301 terhadap negara-negara yang melakukan subsidi berlebih serta praktik kerja paksa.
Wakil USTR, Duta Besar Rick Switzer, dalam forum tersebut secara blak-blakan menyoroti bahwa kerja paksa dan kelebihan kapasitas industri di luar negeri adalah "racun" yang merusak kompetisi sehat. Menurutnya, defisit perdagangan AS hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam, yaitu subsidi asing dan standar lingkungan yang rendah. Switzer memberikan sinyal bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan pengecualian tarif untuk mesin-mesin canggih yang belum bisa diproduksi di dalam negeri guna membantu pabrik-pabrik Amerika melakukan modernisasi skala besar tanpa terbebani biaya tinggi.
Namun, tantangan terbesar industri ini ternyata bukan hanya datang dari luar, melainkan juga dari persepsi para elit di Washington sendiri. Peter Navarro, penasihat senior Trump untuk perdagangan dan manufaktur, mengakui adanya sikap skeptis dari sebagian kalangan yang menganggap industri "kaus oblong" tidak lagi penting di era teknologi tinggi seperti cip dan semikonduktor. Navarro dengan tajam mengingatkan kembali masa pandemi COVID-19, di mana Amerika kelabakan mencari masker dan gaun medis karena ketergantungan pada impor. "Tanpa produksi domestik, Anda tidak memiliki kedaulatan ekonomi maupun militer," tegas Navarro, menyuarakan prinsip bahwa keamanan ekonomi adalah keamanan nasional.
Kini, industri tekstil Amerika tengah bersiap menghadapi tinjauan ulang perjanjian perdagangan USMCA pada Juli mendatang dan terus mendesak pemerintah agar konsisten mendukung rantai pasok di Belahan Bumi Barat seperti CAFTA-DR. Di tengah persaingan global yang kian sengit dan kesenjangan penegakan hukum yang masih terjadi, para produsen kain dan pakaian di Amerika Serikat tetap teguh pada pendirian mereka. Mereka tidak lagi hanya menjual pakaian, melainkan menjual kedaulatan bangsa dalam setiap helai benang yang diproduksi di tanah Amerika.