Print

Pasar pembuat tren fesyen di Brasil kini tengah mengalami pergeseran pasokan yang masif seiring dengan lonjakan drastis arus masuk produk pakaian jadi dari luar negeri. Berdasarkan data terbaru dari perangkat intelijen pelacakan pasar TexPro, nilai impor pakaian Negeri Samba melesat hingga 18,97 persen pada kuartal pertama tahun 2026, menyentuh angka 833,75 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 700,82 juta dolar AS. Lonjakan ini terjadi di tengah bayang-bayang ketidakpastian tarif dagang global, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta biaya logistik pengapalan laut yang tidak menentu.

Fenomena yang paling menyita perhatian para pengamat ekonomi adalah dominasi mutlak China yang kian tak terbendung di pasar domestik Brasil. Sepanjang bulan Januari hingga Maret tahun ini saja, raksasa Asia tersebut sukses memasok pakaian senilai 505,14 juta dolar AS. Angka fantastis ini mendongkrak pangsa pasar China di Brasil menjadi 60,59 persen, melonjak dari 58,46 persen pada kuartal pertama tahun lalu. Kenaikan tajam ini mengindikasikan adanya ketergantungan akut peritel Brasil pada pasokan China, sebuah ironi besar di saat rantai pasok global lainnya justru sedang gencar melakukan diversifikasi untuk menekan risiko geopolitik.

Melihat struktur pasarnya, masyarakat Brasil tampaknya sedang menggandrungi tren busana kasual dan athleisure (pakaian olahraga santai). Hal ini tercermin dari data bahwa jenis pakaian rajut (knit apparel) mendominasi keranjang impor hingga 58,76 persen dengan nilai mencapai 489,89 juta dolar AS. Berdasarkan kategori produk, celana panjang dan pendek menjadi komoditas terlaris dengan nilai pasokan 165,69 juta dolar AS, disusul erat oleh mantel musim dingin sebesar 155,33 juta dolar AS, serta kemeja formal dan kaos oblong yang masing-masing menyumbang kontribusi sekitar sembilan persen.

Menanggapi ketergantungan yang kian mengerucut ini, Direktur Asosiasi Produsen Tekstil Brasil (ABIT) memperingatkan bahwa pemusatan basis pasokan pada satu negara tunggal seperti China berpotensi memicu risiko fatal bagi stabilitas ekonomi ritel lokal. Jika terjadi hambatan logistik di laut atau perubahan regulasi perdagangan mendadak dari Beijing, maka rantai pasok dalam negeri bisa lumpuh seketika.

Kondisi ini sebenarnya menjadi alarm keras bagi negara eksportir pesaing seperti Bangladesh, Vietnam, Paraguay, dan India. Kendati pengiriman dari negara-negara tersebut mengalami sedikit peningkatan nilai nominal—seperti Bangladesh di posisi kedua dengan nilai 82,93 juta dolar AS—secara persentase total pangsa pasar mereka justru menyusut karena kalah cepat dengan akselerasi ekspansi China. Para analis menegaskan, jika para pesaing global ini ingin meruntuhkan hegemoni China di Brasil, mereka wajib menawarkan strategi harga yang jauh lebih kompetitif, spesialisasi produk serat buatan sintetis yang ramah lingkungan, serta jaminan kecepatan distribusi barang yang jauh lebih efisien.