Print

Pemerintah Amerika Serikat di bawah administrasi Donald Trump secara agresif meluncurkan The Great American Cotton Plan demi mendongkrak kembali kejayaan industri kapas domestiknya yang tengah sekarat. Rencana besar yang diumumkan oleh Menteri Pertanian AS, Brooke L. Rollins, ini menjadi langkah paling ofensif Washington di tengah bayang-bayang kerugian masif petani kapas AS selama lima tahun berturut-turut. Kegelisahan AS memuncak setelah takhta mereka sebagai eksportir kapas terbesar di dunia resmi direbut oleh Brasil sejak tahun 2023 akibat lonjakan biaya produksi, hantaman serat sintetis murah, serta runtuhnya pengapalan ke China hingga 90 persen akibat perang dagang yang berkepanjangan.

Menteri Rollins menegaskan bahwa AS kini berfokus mengembalikan profitabilitas pertanian kapas melalui perluasan manufaktur tekstil domestik dan menggalakkan kampanye publik “Plant Not Plastic”. Kampanye ini secara cerdik memanfaatkan sentimen kesehatan global dengan mendorong konsumen memilih serat alami guna mengurangi polusi mikroplastik yang kini banyak dihasilkan oleh bahan baku berbasis minyak bumi seperti poliester. Padahal, data dari Textile Exchange menunjukkan bahwa pangsa pasar global justru dikuasai oleh bahan petrokimia, di mana poliester mendominasi sebesar 59 persen dari total output serat dunia. Selain itu, upaya AS memutus rantai pasok dengan China juga kian nyata. Profesor studi mode dan pakaian jadi dari University of Delaware, Sheng Lu, menyatakan bahwa melihat dinamika hubungan dagang bilateral kedua negara saat ini, proses pemisahan (decoupling) rantai pasok pakaian jadi berbasis kapas antara AS dan China diprediksi akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.

Guna melancarkan perang dagang dan menyelamatkan petaninya, Kementerian Pertanian AS (USDA) kini mengalihkan radar ekspor mereka ke negara-negara manufaktur tekstil potensial lainnya. Dalam rencana strategis tersebut, USDA bersama Perwakilan Dagang AS (USTR) berkomitmen memperluas peluang ekspor baru, termasuk mengamankan komitmen pembelian masa depan dari negara-negara sekutu strategis seperti Bangladesh dan Indonesia. Rencana penyerapan pasar baru ini tentu menjadi perhatian serius bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia yang selama ini memang mengandalkan pasokan kapas premium impor sebagai bahan baku benang berkualitas tinggi.

Namun, cetak biru yang diusung pemerintahan Trump ini dinilai penuh kontradiksi di lapangan. Di satu sisi, USDA memberikan berbagai insentif, mulai dari jaminan pinjaman industri, kenaikan harga referensi kapas hingga 14 persen musim gugur ini, hingga asuransi pertanian yang diperluas. Namun di sisi lain, rencana besar ini sama sekali mengabaikan kata "perubahan iklim" yang menjadi frasa terlarang di era Trump, padahal kekeringan ekstrem dan gelombang panas adalah ancaman nyata bagi produktivitas lahan kapas. Ditambah lagi, pembatalan program kemitraan komoditas ramah iklim serta kebijakan tarif impor yang fluktuatif justru membuat biaya operasional petani AS, seperti pupuk dan peralatan, semakin melambung tinggi. Kini, keberhasilan rencana AS membalikkan dekade pembusukan struktural rantai pasoknya akan sangat bergantung pada seberapa agresif mereka mampu memaksa pasar internasional seperti Indonesia untuk menyerap komoditas putih kebanggaan rural Amerika tersebut.