Print

Peta perdagangan fesyen global kini tengah mengalami perombakan drastis seiring dengan langkah para importir Amerika Serikat yang kian agresif memutus ketergantungan dari China. Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru yang dirilis oleh Office of Textiles and Apparel (OTEXA) di bawah Departemen Perdagangan AS, total impor tekstil dan pakaian jadi Negeri Paman Sam merosot 12,06 persen menjadi 31,113 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga April 2026. Penurunan ini dipimpin oleh segmen pakaian jadi yang melandai 11,90 persen menjadi 23,077 miliar dolar AS.

Di tengah kelesuan pasar tersebut, fenomena paling mencolok adalah kejatuhan dramatis pengapalan garmen dari Negeri Tirai Bambu yang anjlok hingga 50,16 persen, sebuah sinyal kuat bahwa strategi diversifikasi geopolitik AS mulai memukul telak industri manufaktur China.

Upaya para pelaku usaha AS untuk menekan paparan tarif dagang yang tinggi kini menjadi berkah melimpah bagi kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Vietnam sukses mempertahankan mahkotanya sebagai pemasok utama garmen ke pasar AS dengan menggenggam pangsa pasar sebesar 18,62 persen, diikuti oleh China di posisi kedua dengan porsi yang terus menyusut ke angka 14,60 persen. Kontras dengan nasib China, pengapalan pakaian jadi dari Kamboja justru meroket 14,18 persen, disusul oleh kenaikan dari Vietnam sebesar 1,33 persen, dan Indonesia yang masih mencatat pertumbuhan positif 0,13 persen. Pergeseran ini membuktikan bahwa negara-negara yang menawarkan biaya produksi lebih rendah, memiliki keuntungan tarif bebas bea masuk, serta bersikap netral secara geopolitik kini jauh lebih diminati oleh peritel Amerika.

Tren pengalihan rute pasokan ini juga merembet ke segmen non-pakaian jadi. Di sektor ini, impor dari Vietnam melompat tajam sebesar 20,90 persen dan Kamboja tumbuh 8,07 persen, sementara China lagi-lagi terhempas dengan penurunan sebesar 32,05 persen. Tidak hanya China, pemasok tradisional bermodal besar lainnya seperti India juga mengalami pukulan telak dengan penurunan pengapalan lebih dari 27 persen di kedua segmen. Pelemahan daya saing pada negara-negara produsen utama ini sebagian besar dipicu oleh tingginya biaya logistik dan operasional, yang membuat mereka kalah gesit dari kompetitor yang lebih murah di kategori produk yang sensitif terhadap harga.

Ditinjau dari jenis materialnya, produk berbahan serat buatan manusia (man-made fibre) tetap mendominasi pasar impor AS dengan nilai mencapai 15,778 miliar dolar AS. Tingginya angka ini disokong oleh keunggulan biaya, ketersediaan bahan baku sepanjang tahun, serta meledaknya permintaan lokal untuk kategori pakaian olahraga (performance wear). Produk berbasis katun menyusul di posisi kedua dengan nilai 13,033 miliar dolar AS. Sejumlah pengamat ekonomi internasional menilai bahwa kontraksi impor pada awal tahun 2026 ini merupakan fase konsolidasi setelah pasar sempat jenuh akibat lonjakan pascapandemi beberapa tahun lalu. Dengan beban pembuktian kepatuhan dagang yang kian rumit, era kejayaan China di gerai-gerai fesyen Amerika tampaknya akan terus digantikan oleh dominasi baru dari pabrik-pabrik garmen di Asia Tenggara.