Print

Kisah sukses nearshoring industri pakaian jadi Meksiko kini memasuki babak yang lebih menantang. Meskipun posisi Meksiko sebagai mitra dagang strategis Amerika Serikat tetap kokoh berkat kedekatan geografis dan perjanjian USMCA, data terbaru dari TexPro menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Volume ekspor pakaian Meksiko pada Januari hingga April 2026 tercatat sebesar 1,51 miliar dolar AS, angka yang hanya naik tipis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan masih jauh berada di bawah puncak pencapaian tahun 2023. Di balik angka-angka tersebut, ketergantungan Meksiko terhadap pasar Amerika Serikat semakin absolut, dengan sekitar 96 persen dari seluruh ekspor pakaian mereka menuju ke Utara.

Masalah mendasar yang kini menghantui ruang rapat eksekutif perusahaan adalah asal-usul bahan baku. Model operasional industri pakaian Meksiko saat ini cenderung menjadi skema konversi: perakitan dilakukan di Meksiko, namun bahan tekstilnya semakin bergantung pada pasokan Asia. Data menunjukkan bahwa pangsa pasar Tiongkok sebagai pemasok tekstil ke Meksiko hampir menyamai Amerika Serikat. Pada kuartal pertama 2026, impor tekstil dari Amerika Serikat ke Meksiko menyusut menjadi 39,3 persen dari sebelumnya 48 persen pada 2018, sementara pangsa Tiongkok melonjak tajam dari 30,3 persen menjadi 38,3 persen. Hal ini menciptakan kerentanan struktural bagi eksportir Meksiko.

Di bawah kerangka USMCA, akses bebas bea tidak diberikan secara otomatis hanya berdasarkan lokasi penjahitan. Aturan asal barang (rules of origin) yang ketat mengharuskan penggunaan benang dan kain dari kawasan Amerika Utara. Jika produk akhir lebih banyak mengandung input dari luar kawasan—dalam hal ini Asia—maka insentif bebas bea tersebut terancam gugur. Situasi ini semakin rumit dengan adanya kebijakan perdagangan baru. Pemerintah Meksiko mulai menerapkan kenaikan tarif hingga 50 persen pada barang tekstil dari negara-negara non-mitra dagang seperti Tiongkok, India, dan Indonesia sebagai upaya untuk menyelaraskan kebijakan dengan Washington.

Amerika Serikat juga mulai memperketat pengawasan terhadap aturan asal barang, seiring dengan ketidakpastian masa depan USMCA yang kini memasuki fase peninjauan. Bagi para pelaku industri, era nearshoring yang mengandalkan keunggulan geografis semata telah berakhir. Babak baru ini menuntut disiplin yang lebih tinggi dalam aspek dokumentasi, ketertelusuran rantai pasok, dan asal-usul bahan baku. Tantangan besar bagi produsen Meksiko adalah bagaimana mereka dapat mempertahankan fleksibilitas biaya yang ditawarkan oleh input Asia tanpa mengorbankan keunggulan kompetitif yang diberikan oleh USMCA. Masa depan industri pakaian Meksiko kini tidak lagi ditentukan oleh seberapa cepat mereka mengirimkan barang ke konsumen Amerika, melainkan oleh kejelasan dan kepatuhan dari mana kain itu berasal.