Print

Amerika Serikat, sebagai salah satu pasar konsumen produk tekstil dan busana terbesar di dunia, mencatatkan tren penurunan yang signifikan sepanjang paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru yang dirilis oleh Office of Textiles and Apparel (OTEXA) di bawah Departemen Perdagangan Amerika Serikat, total impor tekstil dan pakaian jadi negeri Paman Sam tersebut menyusut sebesar 7,12 persen menjadi 47,670 miliar dolar AS, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 51,326 miliar dolar AS. Angka ini mencerminkan adanya tekanan nyata pada daya beli pembeli di Amerika Serikat serta perubahan pola konsumsi masyarakat di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.

Sektor pakaian jadi, yang menjadi penyumbang terbesar dalam portofolio impor, mengalami pelemahan sebesar 7,71 persen dengan nilai mencapai 35,087 miliar dolar AS. Sementara itu, kategori non-pakaian juga tidak luput dari dampak penurunan, merosot 5,43 persen menjadi 12,583 miliar dolar AS. Di tengah tren penurunan secara keseluruhan, lanskap negara pemasok utama mengalami pergeseran yang menarik. Vietnam dengan kokoh mempertahankan posisinya sebagai pemasok utama bagi pasar Amerika Serikat, menyumbang 18,62 persen dari nilai impor tekstil dan garmen, sementara Tiongkok berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 14,80 persen.

Fenomena unik terlihat dari pergeseran arah pengiriman barang. Sejumlah negara produsen mengalami lonjakan ekspor yang cukup impresif ke pasar Amerika Serikat. Pengiriman pakaian jadi dari Kamboja tercatat melesat sebesar 12,61 persen, Italia naik 8,07 persen, Indonesia tumbuh 3,67 persen, dan Vietnam mengalami peningkatan tipis sebesar 1,33 persen. Sebaliknya, Tiongkok harus menghadapi kenyataan pahit dengan penurunan pengiriman yang tajam sebesar 37,65 persen, diikuti oleh India yang menyusut 25,19 persen serta Bangladesh dan Meksiko yang juga mengalami kontraksi. Realitas ini menegaskan bahwa strategi diversifikasi rantai pasok oleh para pembeli Amerika Serikat untuk memitigasi risiko geopolitik mulai membuahkan hasil nyata bagi negara-negara alternatif.

Realisasi serupa juga tampak pada segmen non-pakaian. Vietnam, Italia, dan Kamboja berhasil mencatatkan pertumbuhan ekspor yang signifikan ke Amerika Serikat. Secara keseluruhan, produk berbahan serat sintetis mendominasi pasar impor dengan nilai 24,141 miliar dolar AS, didorong oleh keunggulan biaya, ketersediaan sepanjang tahun, serta permintaan yang kuat untuk pakaian berkinerja tinggi. Produk berbasis kapas menempati urutan kedua, menyusul dengan angka 20,111 miliar dolar AS.

Melihat perjalanan historis dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru bagi industri tekstil global. Setelah mengalami kontraksi tajam pada tahun 2023, pasar sempat berusaha untuk bangkit dan menstabilkan diri. Namun, kondisi semester pertama tahun 2026 kembali menempatkan para pelaku industri pada tantangan baru. Dengan adanya pergeseran preferensi sourcing ke negara-negara yang menawarkan fleksibilitas dan mitigasi risiko yang lebih baik, peta kekuatan dalam industri tekstil dan apparel global diprediksi akan terus mengalami transformasi dinamis di masa depan.