Print

Industri tekstil hulu Bangladesh kini berada di ambang kehancuran setelah gelombang impor benang murah dari India membanjiri pasar domestik. Berdasarkan laporan terbaru dari Asosiasi Pabrik Tekstil Bangladesh (BTMA), volume impor benang dari negara tetangga tersebut melonjak drastis sebesar 137 persen selama periode April hingga Oktober 2025. Kondisi ini membuat pabrik pemintalan lokal terjebak dengan stok benang yang tidak terjual senilai Tk 12.000 crore, karena kalah bersaing dengan produk India yang dijual dengan harga dumping—lebih murah sekitar $0,30 per kilogram dibandingkan harga domestik.

Presiden BTMA, Showkat Aziz Russell, dalam konferensi pers di Dhaka mengungkapkan bahwa dampak dari "agresi ekonomi" ini telah menyebabkan hampir 50 pabrik pemintalan lokal gulung tikar dalam beberapa tahun terakhir. Russell, yang juga kehilangan salah satu pabriknya sendiri akibat krisis ini, menekankan betapa sulitnya membangkitkan kembali sektor yang memerlukan investasi besar antara Tk 500 hingga Tk 700 crore per unit pabrik tersebut. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan pada benang India dapat menjadi bumerang bagi sektor garmen nasional jika sewaktu-waktu pasokan dihentikan secara sepihak. "Jika Bangladesh sangat bergantung pada benang India, mereka mungkin akan menghentikan pasokan secara tiba-tiba, yang akan menempatkan sektor garmen kita dalam kesulitan besar," tegas Russell.

Mantan Direktur BTMA, Razeeb Haider, menambahkan bahwa lonjakan impor ini telah mencapai nilai $950 juta hanya dalam tujuh bulan di tahun 2025. Hal ini menjadikan Bangladesh sebagai tujuan ekspor benang terbesar bagi India, dengan pangsa mencapai 44 persen dari total ekspor mereka. Menurut Haider, harga benang India yang hanya $2,50 per kilogram mustahil untuk dilawan oleh produsen lokal yang harus menjual di harga $3 per kilogram akibat tingginya biaya bahan baku dan inflasi. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pemerintah India yang memberikan insentif berlapis mulai dari petani kapas hingga eksportir, sehingga produk mereka menjadi sangat kompetitif secara tidak adil di pasar Bangladesh.

Menghadapi situasi yang kian mendesak, para pelaku industri mendesak pemerintah untuk segera memberikan dukungan kebijakan dalam waktu 72 jam demi menyelamatkan sektor tekstil primer yang memiliki total investasi sebesar $23 miliar tersebut. Rekomendasi yang diajukan mencakup pemberian insentif tunai sebesar 10 hingga 25 persen untuk ekspor garmen yang menggunakan benang lokal, peningkatan Dana Pengembangan Ekspor (EDF) dengan suku bunga rendah, serta larangan impor pada jenis benang tertentu yang sudah mampu diproduksi melimpah di dalam negeri. Tanpa intervensi segera, para pemimpin BTMA khawatir kontrol India atas industri backward linkage ini akan meluas hingga mendominasi sektor garmen secara keseluruhan, yang merupakan pilar utama ekspor Bangladesh.