Print

Industri pakaian jadi global tengah menyaksikan pergeseran kekuatan yang dramatis pada awal tahun 2026. Meskipun Bangladesh secara angka agregat masih memegang predikat sebagai eksportir pakaian jadi terbesar kedua di dunia dengan nilai ekspor mencapai $38,48 miliar pada tahun 2024, sebuah realitas pahit mulai terkuak: Vietnam kini secara strategis mendikte masa depan mode global, sementara Bangladesh terjebak dalam model kompetisi lama yang kian rapuh.

Perbedaan mencolok terlihat di pasar Amerika Serikat, pasar tunggal terbesar di dunia. Pada tahun 2024, Vietnam berhasil meraup hampir $15 miliar dari ekspor pakaian ke AS, sementara Bangladesh hanya mampu mengumpulkan sekitar $7 miliar—kurang dari separuh pencapaian Vietnam. Ironisnya, secara kuantitas, Bangladesh mengirimkan lebih banyak potong pakaian, namun secara nilai, Vietnam jauh mengungguli. Hal ini membuktikan bahwa Vietnam tidak hanya mengekspor lebih banyak, tetapi mengekspor barang yang "lebih baik" dengan harga satuan yang lebih tinggi melalui integrasi pembeli yang lebih kuat.

Kekuatan Bangladesh saat ini sangat bergantung pada pasar Uni Eropa, dengan nilai ekspor mendekati $20 miliar pada tahun 2024. Namun, dominasi ini berdiri di atas fondasi yang goyah. Selama ini, Bangladesh menikmati fasilitas bebas bea masuk sebagai Negara Kurang Berkembang (Least Developed Country/LDC). Masalahnya, Bangladesh dijadwalkan akan "lulus" dari status LDC pada tahun 2026. "Tanpa status LDC, produk Bangladesh akan menghadapi tarif sekitar 12 persen di Eropa. Vietnam, sebaliknya, sudah mengamankan perjanjian perdagangan bebas (EVFTA) yang secara bertahap menghapus semua tarif mereka," ungkap seorang analis perdagangan internasional dalam laporan riset pasar terbaru.

Secara struktural, Vietnam telah melompat ke masa depan dengan menguasai segmen serat buatan manusia (man-made fiber/MMF) seperti pakaian olahraga, athleisure, dan pakaian teknis yang kini mendominasi permintaan dunia. Di sisi lain, hampir tiga perempat ekspor Bangladesh masih berupa produk berbahan dasar kapas tradisional. Vietnam telah membangun keterkaitan industri hulu yang kuat, mulai dari pabrik serat sintetis hingga fasilitas pencelupan canggih melalui investasi asing langsung. Sebaliknya, Bangladesh masih mengandalkan impor untuk bahan baku sintetisnya, yang mengakibatkan waktu tunggu (lead time) lebih lama dan biaya lebih tinggi.

Vietnam tidak menunggu kehilangan hak istimewa perdagangan untuk bertindak; mereka menjalin jaringan perjanjian perdagangan bebas yang mencakup lebih dari separuh PDB global. Bangladesh kini berpacu dengan waktu. Jika tidak segera melakukan kalibrasi ulang strategi ekspor—dengan beralih ke serat sintetis dan memperkuat diplomasi perdagangan—Dhaka berisiko kehilangan relevansinya sebelum tembok tarif benar-benar naik. Dalam perang mode global, volume tanpa strategi adalah kerentanan, dan Vietnam telah memahami hal ini jauh lebih awal.