Hong Kong menutup tirai tahun 2025 dengan sebuah anomali yang membingungkan para pelaku industri ritel. Di tengah gemerlap lampu kota dan kedatangan 49,9 juta wisatawan sepanjang tahun—melonjak 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya—sektor fesyen justru harus menelan pil pahit. Berdasarkan data terbaru, penjualan pakaian di kota pelabuhan ini merosot tajam sebesar 10,3 persen secara tahunan (Y-o-Y) pada bulan Desember, meskipun secara keseluruhan total nilai penjualan ritel kota meningkat 6,6 persen menjadi $35 miliar.
Fenomena ini mengungkap pergeseran drastis dalam perilaku belanja di salah satu pusat mode dunia tersebut. Tren "balas dendam belanja" (revenge spending) yang sempat meledak pasca-pandemi kini telah bermutasi. Wisatawan kini lebih memilih mengalokasikan uang mereka untuk barang-barang hard luxury dan pengalaman gaya hidup daripada pakaian high-street. Hal ini terbukti dari angka penjualan perhiasan dan jam tangan yang justru tumbuh subur sebesar 14,3 persen. Di sisi lain, pengecer pakaian lokal terjepit di antara dua tekanan: mendinginnya sentimen belanja domestik dan tren warga lokal yang lebih memilih menyeberang perbatasan ke Shenzhen untuk berbelanja produk bernilai ekonomis.
Di tengah lesunya toko fisik yang membuat distrik kelas atas seperti Causeway Bay mulai kehilangan daya tarik, secercah harapan muncul dari dunia digital. Penjualan ritel daring di sektor fesyen mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 30,9 persen pada bulan Desember. Transformasi struktural ini menunjukkan bahwa konsumen Hong Kong kini lebih nyaman bertransaksi melalui platform direct-to-consumer dibandingkan harus berkunjung ke toko serba ada (department store) yang penjualannya turun 4,6 persen. "Tantangan besar di tahun 2026 adalah bagaimana mengonversi volume pengunjung yang masif menjadi transaksi nyata di sektor pakaian, di saat merek-merek global mulai mempertimbangkan kembali keberadaan fisik mereka di lokasi dengan biaya sewa selangit," ungkap seorang analis ritel setempat.
Pemerintah Hong Kong tetap optimis menatap tahun 2026 dengan target pertumbuhan ritel sebesar 2 persen. Strategi "Mega-Event" tengah disiapkan untuk memastikan 50 juta pengunjung tahunan tidak hanya sekadar datang, tetapi kembali menjadi pembelanja bernilai tinggi. Integrasi yang lebih dalam dengan kawasan Greater Bay Area diharapkan menjadi kunci pemulihan. Meski kategori alas kaki dan aksesori masih merosot 10 persen, transformasi menuju digitalisasi dan fokus pada kemewahan tingkat tinggi diharapkan mampu mengembalikan status Hong Kong sebagai gerbang utama pasar mode mewah menuju Tiongkok Daratan di tahun mendatang.