Print

Industri tekstil global tengah menyoroti laporan terbaru dari Asosiasi Kapas Tiongkok (CCA) yang merilis hasil survei niat tanam nasional untuk tahun 2026. Berdasarkan investigasi terhadap 1.805 petani pada Januari 2026, luas lahan tanam kapas nasional Tiongkok diproyeksikan mencapai 44,583 juta mu, sebuah angka yang menunjukkan stabilitas meski terdapat penurunan tipis sebesar 0,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini memberikan kepastian bagi rantai pasok dunia, mengingat Tiongkok tetap menjadi salah satu produsen serat putih terbesar yang menentukan arah harga komoditas global.

Wilayah Xinjiang masih menjadi tulang punggung utama dengan rencana luas tanam mencapai 40,831 juta mu. Meski turun sangat tipis sebesar 0,2 persen secara tahunan, niat tanam di wilayah ini dinilai sangat kokoh karena didukung oleh kebijakan kapas yang stabil dan kondisi iklim yang menguntungkan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, peningkatan mekanisasi dan kemampuan manajemen lahan yang lebih modern menjadi alasan utama mengapa 91,5 persen petani di Xinjiang memilih untuk tidak mengubah luas lahan mereka. Perwakilan CCA mencatat bahwa rasa percaya diri petani di Xinjiang meningkat, terlihat dari persentase rumah tangga yang berencana memperluas lahan merangkak naik dibandingkan survei bulan sebelumnya.

Pemandangan sedikit berbeda terlihat di wilayah lembah sungai, di mana ketidakpastian masih membayangi. Di Lembah Sungai Yangtze, luas tanam diprediksi turun 3,5 persen menjadi 1,261 juta mu, dengan sekitar 60 persen petani masih dalam posisi "menunggu dan melihat" (wait-and-see). Kondisi serupa terjadi di Lembah Sungai Kuning yang mencatat penurunan niat tanam sebesar 5 persen. Di wilayah-wilayah ini, kompetisi lahan dengan tanaman pangan lain serta fluktuasi harga jual menjadi faktor pertimbangan utama petani sebelum terjun sepenuhnya ke musim tanam baru.

Meskipun luas lahan di beberapa wilayah menyusut, kecepatan penjualan kapas biji (seed cotton) justru menunjukkan performa impresif. Di Lembah Sungai Kuning, penjualan telah mencapai 95,6 persen per akhir Januari, melesat 13,5 poin persentase lebih cepat dibandingkan tahun lalu. Dari sisi harga, rata-rata harga jual di Lembah Sungai Yangtze pada Januari tercatat sebesar 6,5 yuan/kg. Meski angka ini turun tipis secara tahunan, terdapat lonjakan signifikan sebesar 14,9 persen jika dibandingkan dengan harga pada Desember, memberikan sedikit ruang napas bagi margin keuntungan petani di awal tahun.

Secara keseluruhan, laporan CCA ini menggambarkan wajah industri kapas Tiongkok yang sedang bertransformasi menuju efisiensi daripada sekadar ekspansi lahan. Dengan dominasi Xinjiang yang semakin terpusat dan terdigitalisasi, Tiongkok tampaknya lebih fokus pada kualitas dan stabilitas hasil panen guna memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. Para pelaku pasar tekstil internasional kini memantau dengan cermat apakah stabilitas niat tanam ini akan diikuti oleh produktivitas yang tinggi, yang pada akhirnya akan menjaga keseimbangan pasokan kapas dunia di tengah dinamika perdagangan global 2026 yang kian kompetitif.