Februari 2026 menjadi titik balik dramatis bagi peta perdagangan tekstil global. Penandatanganan perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dan Bangladesh baru-baru ini telah menciptakan "papan catur" baru yang memaksa para pemain besar, termasuk India, untuk menghitung ulang langkah strategis mereka. Melalui kesepakatan ini, AS memberikan tarif nol persen bagi produk garmen Bangladesh, namun dengan syarat ketat: produk tersebut harus menggunakan bahan baku kapas atau serat buatan yang bersumber dari Amerika Serikat.
Langkah ini langsung memicu reaksi di pasar keuangan India. Saham beberapa perusahaan tekstil terdaftar di bursa India mengalami penurunan karena kekhawatiran bahwa akses bebas tarif Bangladesh akan menggerus volume ekspor dan margin keuntungan India. Meskipun India sendiri telah berhasil menegosiasikan penurunan tarif ke AS menjadi sekitar 18 persen, keberadaan "jalur nol persen" bagi Bangladesh untuk produk kategori dasar seperti kaos dan pakaian santai menciptakan tekanan harga yang nyata di mata para importir Amerika.
Namun, industri tekstil India tidak tinggal diam. Perbedaan fundamental antara kedua negara menjadi senjata bagi India; sementara Bangladesh sangat bergantung pada produk garmen siap pakai, industri India jauh lebih terdiversifikasi, mencakup benang, kain berkualitas tinggi, hingga tekstil teknis yang sulit direplikasi. Selain itu, India memiliki keunggulan vertikal karena menanam kapasnya sendiri dan memiliki industri pemintalan yang kuat, sehingga tidak perlu bergantung pada bahan baku impor untuk tetap kompetitif.
"Kenyataannya, beralih ke kapas AS bukanlah perkara mudah bagi Bangladesh. Saat ini mereka masih sangat bergantung pada India dan Tiongkok untuk bahan baku," ungkap seorang pakar industri dalam diskusi mengenai dinamika pasar tersebut. Ia menambahkan bahwa biaya logistik yang lebih tinggi dan waktu pengiriman yang lebih lama dari AS dapat menjadi "jebakan" yang mengimbangi keuntungan dari tarif nol persen tersebut.
Di sisi lain, India memiliki kartu as di pasar Eropa. Hampir bersamaan dengan kesepakatan AS-Bangladesh, India menandatangani Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) komprehensif dengan Uni Eropa pada Februari 2026, yang menghapuskan bea masuk bagi hampir 99,5 persen ekspor India. Hal ini memberikan tekanan balik yang masif bagi Bangladesh, terutama saat negara tersebut bersiap untuk melepaskan statusnya sebagai Negara Kurang Berembang (LDC) yang selama ini memberikan mereka banyak kemudahan.
Persaingan ini kini bukan lagi sekadar soal siapa yang paling murah, melainkan siapa yang paling gesit dalam menavigasi diplomasi perdagangan dan rantai pasok. India kini tengah mempertimbangkan untuk menegosiasikan manfaat timbal balik serupa dengan AS guna menetralkan keunggulan harga Bangladesh. Pada akhirnya, apakah momentum ini akan menjadi hambatan atau justru batu loncatan bagi kemajuan tekstil Asia Selatan akan sangat bergantung pada seberapa cepat para produsen dapat beradaptasi dengan aturan main baru yang semakin kompleks ini.