Print

Di koridor kekuasaan Beijing saat pertemuan "Dua Sesi" tahun 2025, sebuah narasi perlawanan bergema kuat. Wang Kuiran, Sekretaris Jenderal Pemerintah Xinjiang, dengan percaya diri memaparkan data yang kontras dengan upaya isolasi ekonomi oleh negara-negara Barat. Di hadapan delegasi, ia mengungkapkan bahwa industri tekstil di wilayah barat laut Tiongkok tersebut justru mengalami lonjakan signifikan. Produksi benang meroket lebih dari 20 persen, sementara manufaktur kain melonjak hingga 36 persen sepanjang tahun lalu. Angka-angka ini bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan pernyataan politik Tiongkok terhadap apa yang disebut Wang sebagai "perundungan ekonomi" yang dibungkus dalam isu hak asasi manusia.

Meski berada di bawah bayang-bayang Undang-Undang Pencegahan Kerja Paksa Uyghur (UFLPA) yang diberlakukan Amerika Serikat, Xinjiang melaporkan penciptaan 46.800 lapangan kerja baru. Wang menegaskan bahwa pembangunan wilayah tersebut tidak bergantung pada "amal" pihak mana pun dan tidak gentar menghadapi tekanan yang tidak adil. Namun, di balik optimisme ini, para pengamat internasional melihat realitas yang lebih kompleks. Adrian Zenz, peneliti senior di Victims of Communism Memorial Foundation, menilai pertumbuhan ini sebagai upaya sistematis Beijing untuk mempercepat transfer tenaga kerja guna memaksimalkan pangsa ekonomi kawasan tersebut, sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa kebijakan mereka berhasil.

Ketegangan ini menciptakan dilema besar dalam rantai pasok fesyen global. Kapas Xinjiang, yang mencakup 92 persen dari total produksi kapas Tiongkok dan sekitar 20 persen pasokan global, kini semakin terintegrasi ke dalam ekonomi domestik Tiongkok. Untuk mengimbangi hambatan ekspor, Beijing mempercepat logistik internal dengan meluncurkan layanan kereta barang ekspres pertama dari Xinjiang ke hub tekstil di timur, yang memangkas waktu tempuh dari 15 hari menjadi hanya tiga hari. Kecepatan ini, menurut Gemma Lynch dari platform forensik rantai pasok Oritain, menjadi tantangan baru bagi pengawasan global karena mempersempit jendela waktu untuk verifikasi asal bahan baku.

Sheng Lu, profesor studi fesyen di University of Delaware, mencatat adanya "pemutusan hubungan" yang nyata dalam perdagangan AS-Tiongkok, di mana impor pakaian kapas AS dari Tiongkok jatuh ke titik terendah dalam beberapa dekade. Meskipun demikian, dominasi kapas Tiongkok membuat divestasi total menjadi hampir mustahil bagi banyak merek global. Di saat Barat memperketat pengawasan melalui uji isotop yang rumit, Tiongkok terus memperkuat benteng ekonominya melalui undang-undang anti-sanksi dan bantuan hukum bagi perusahaan yang masuk daftar hitam. Pertarungan antara kepatuhan terhadap HAM dan realitas ketergantungan ekonomi ini diprediksi akan terus membentuk ulang peta industri tekstil dunia dalam tahun-tahun mendatang.