Pasar mode Jepang menunjukkan tanda-tanda pemulihan konsumsi yang luar biasa pada awal tahun 2026. Setelah sempat bergerak lamban pada bulan pertama tahun ini, data sementara dari Kementerian Keuangan Jepang mengungkapkan lonjakan tajam pada angka impor pakaian dan aksesori. Pada Februari 2026, nilai pengiriman masuk produk mode ke Negeri Sakura tersebut meroket hingga 22,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai angka 328,148 juta yen atau setara dengan kurang lebih 2,06 miliar dolar AS. Kenaikan yang signifikan ini menandakan kembalinya gairah belanja konsumen Jepang di tengah dinamika ekonomi global yang masih fluktuatif.
Fenomena lonjakan ini tidak hanya terbatas pada produk pakaian jadi. Sektor hulu tekstil juga mencatatkan pertumbuhan yang impresif, di mana impor benang dan kain tekstil melonjak sebesar 25,6 persen menjadi 98,075 juta yen. Secara keseluruhan, sektor pakaian dan aksesori kini menyumbang sekitar 3,4 persen dari total nilai impor Jepang yang menyentuh angka 9,51 triliun yen pada bulan kedua tahun ini. Tren positif ini merupakan kelanjutan dari pertumbuhan moderat pada tahun 2025, di mana impor pakaian tahunan Jepang tumbuh 4,5 persen dengan total nilai mencapai 24,30 miliar dolar AS. Para analis ekonomi melihat angka-angka ini sebagai indikator bahwa permintaan domestik Jepang terhadap produk tekstil luar negeri tetap tangguh, meskipun ada tantangan logistik global.
Kontras dengan performa impor yang gemilang, sektor ekspor tekstil Jepang justru menghadapi tekanan. Pengiriman benang dan kain tekstil ke luar negeri mencatatkan penurunan sebesar 8,5 persen menjadi 63,654 juta yen pada Februari 2026. Meski demikian, sektor teknologi industri Jepang masih menunjukkan taringnya; ekspor mesin tekstil tetap tumbuh tipis sebesar 0,4 persen. Hal ini mencerminkan pergeseran fokus industri Jepang yang lebih kuat pada konsumsi produk jadi dan penyediaan teknologi mesin dibandingkan sebagai eksportir bahan baku kain.
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, fluktuasi ini menunjukkan perbaikan yang konsisten sejak periode fiskal 2023–2024, di mana impor pakaian sempat mengalami penurunan 1,7 persen. Pemulihan yang dimulai pada tahun fiskal 2024–2025 kini telah mencapai puncaknya di kuartal pertama 2026. Dengan proyeksi konsumsi yang terus menguat, Jepang diprediksi akan tetap menjadi pasar kunci bagi produsen garmen dunia, terutama dari kawasan Asia Tenggara dan Tiongkok. Lonjakan di bulan Februari ini diharapkan menjadi katalis bagi pertumbuhan sektor ritel mode Jepang di sepanjang sisa tahun 2026, memperkuat posisi negara tersebut sebagai salah satu hub konsumsi pakaian terbesar di dunia.