Print

Lanskap perdagangan garmen global tengah mencatatkan sejarah baru pada tahun 2025. Vietnam secara resmi telah menggeser posisi Tiongkok sebagai pemasok utama jaket dan blazer ke pasar Amerika Serikat (AS), sebuah pencapaian yang menandai pergeseran struktural paling signifikan dalam empat tahun terakhir. Meski Tiongkok sempat memegang kendali penuh pada tahun 2022, akselerasi pertumbuhan Vietnam yang konsisten akhirnya berhasil meruntuhkan dominasi sang raksasa Asia Timur tersebut, sekaligus memperlebar jarak keunggulan di antara kedua rival bebuyutan ini.

Berdasarkan data terbaru dari alat intelijen sumber tekstil TexPro, total impor jaket dan blazer AS pada tahun 2025 tercatat sebesar 1.399,198 juta dolar AS. Angka ini sebenarnya menunjukkan moderasi atau penurunan tipis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana pada 2024 mencapai 1.502,169 juta dolar AS dan pada 2023 sebesar 1.571,982 juta dolar AS. Namun, di tengah kontraksi pasar secara keseluruhan, Vietnam justru berhasil memperkuat posisinya. Ekspor Vietnam melonjak hingga menyentuh angka 288,172 juta dolar AS pada tahun 2025, sementara di saat yang bersamaan, pengiriman dari Tiongkok merosot tajam menjadi hanya 200,923 juta dolar AS.

Transisi kekuasaan di sektor pakaian jadi ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan melalui proses yang bertahap namun pasti. Menengok kembali ke tahun 2022, Tiongkok masih memimpin dengan nilai ekspor 355,035 juta dolar AS, unggul di atas Vietnam yang kala itu mencatatkan 311,739 juta dolar AS. Celah tersebut mulai menyempit pada tahun 2023 dan mencapai titik balik krusial pada tahun 2024, hingga akhirnya Vietnam benar-benar melesat melampaui Tiongkok di tahun 2025 seiring dengan penurunan drastis volume ekspor Negeri Tirai Bambu.

Keberhasilan Vietnam ini dipandang oleh para ahli industri sebagai hasil dari strategi diversifikasi rantai pasok global. Para pembeli di Amerika Serikat kini semakin aktif mencari alternatif di luar Tiongkok guna menghindari risiko geopolitik dan mencari pusat manufaktur yang lebih kompetitif di Asia. Vietnam muncul sebagai penerima manfaat utama berkat kapabilitas manufaktur yang mumpuni, keselarasan yang kuat dengan pembeli internasional, serta keunggulan dalam segmen pakaian bernilai tambah tinggi seperti blazer dan jaket teknis.

Sementara itu, pemasok lain seperti India, Bangladesh, dan Turkiye terpantau masih stabil namun tertinggal jauh di belakang dua posisi teratas. India mencatatkan pertumbuhan moderat dari 54,529 juta dolar AS pada tahun 2022 menjadi 64,715 juta dolar AS di tahun 2025. Sebaliknya, Turkiye mengalami penurunan menjadi 26,192 juta dolar AS dalam periode yang sama. Fenomena ini menegaskan bahwa sektor jaket dan blazer kini menjadi panggung utama bagi Vietnam untuk memamerkan taringnya dalam peta persaingan mode dunia, sekaligus membuktikan bahwa dinamika biaya dan penyelarasan rantai pasok telah membentuk ulang wajah impor pakaian di Amerika Serikat secara permanen.