Print

Pasar mode dan tekstil di Negeri Kanguru menunjukkan anomali yang menarik sepanjang delapan bulan pertama tahun fiskal 2025-2026. Berdasarkan data terbaru dari Biro Statistik Australia (ABS), terjadi pergeseran tren di mana impor pakaian jadi mengalami penurunan, sementara permintaan terhadap bahan baku tekstil justru merangkak naik. Hingga Februari 2026, nilai impor pakaian jadi Australia terkoreksi sebesar 3,77 persen menjadi sekitar US$6,038 miliar. Penurunan ini kian terasa tajam pada performa bulanan Februari yang merosot hingga 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sebuah sinyal kuat adanya pengetatan pengeluaran rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen Australia yang kini lebih berhati-hati dalam membeli produk fesyen siap pakai. Setelah sempat mengalami pemulihan pada tahun fiskal sebelumnya, pasar pakaian jadi kini kembali menghadapi tekanan. Di sisi lain, kategori impor benang, kain, dan barang tekstil lainnya justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,44 persen menjadi US$2,243 miliar. Kenaikan impor bahan baku di tengah lesunya produk jadi ini mengindikasikan adanya pergerakan pada sektor manufaktur lokal atau industri kreatif skala kecil di Australia yang mulai mencoba memenuhi kebutuhan domestik secara mandiri menggunakan material impor.

Tidak hanya bahan baku tekstil, sektor serat juga menunjukkan performa yang solid. Impor serat naik secara signifikan, sementara ekspor serat tekstil dari Australia mencatatkan pertumbuhan yang sangat mengesankan, yakni melonjak hingga 28,28 persen pada bulan Februari saja. Seorang analis dari industri tekstil mencatat bahwa meskipun permintaan domestik untuk pakaian jadi melambat, posisi Australia sebagai penyokong bahan baku global tetap kokoh. "Ekspor serat tekstil Australia telah menunjukkan ketahanan yang luar biasa, membuktikan bahwa meskipun pasar ritel dunia sedang lesu, kualitas komoditas bahan baku kita tetap menjadi incaran utama produsen luar negeri," ungkap narasumber tersebut dalam tinjauan pasar pekan ini.

Lanskap perdagangan ini juga merupakan cerminan dari tantangan logistik dan koreksi inventaris yang sempat menghambat pasar pada dua tahun sebelumnya. Meski angka impor pakaian jadi saat ini tampak melemah jika dibandingkan dengan lonjakan 8 persen pada tahun fiskal 2024-2025, pasar tekstil secara keseluruhan sedang mencari titik keseimbangan baru. Australia kini berada dalam fase di mana mereka tidak hanya sekadar menjadi konsumen akhir garmen murah dari Asia, tetapi juga memperkuat perannya dalam rantai pasok serat global. Dengan ekspor serat yang terus tumbuh, ekonomi Australia di sektor ini tampaknya lebih mengandalkan kekuatan sektor hulu sebagai benteng pertahanan di tengah fluktuasi harga global dan dinamika permintaan ritel yang belum stabil sepenuhnya.