Industri garmen Sri Lanka, yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung ekonomi negara kepulauan tersebut, kini tengah menghadapi tantangan berat pada awal tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk ‘External Sector Performance – March 2026’ yang dirilis oleh Bank Sentral Sri Lanka, nilai ekspor pakaian jadi mengalami penurunan signifikan sebesar 8,2 persen pada kuartal pertama tahun ini. Angka tersebut merosot menjadi $1,17 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka $1,28 miliar.
Penurunan ini tidak hanya terbatas pada pakaian jadi, tetapi juga menjalar ke sub-sektor lainnya. Ekspor tekstil secara umum turun 5,2 persen menjadi $69,5 juta, sementara barang tekstil manufaktur lainnya menyusut 3,8 persen. Jika dilihat secara bulanan, kondisi pada Maret 2026 tampak lebih mengkhawatirkan dengan kontraksi ekspor pakaian mencapai 10,3 persen. Data ini menunjukkan bahwa volatilitas permintaan global masih menjadi momok utama bagi para produsen di Kolombo dan sekitarnya, meskipun sektor ini tetap mendominasi hampir separuh dari total ekspor industri negara tersebut.
Di tengah lesunya angka penjualan ke luar negeri, Sri Lanka justru mencatatkan kenaikan pada sisi impor. Nilai impor tekstil dan barang tekstil meningkat 4,4 persen menjadi $707,9 juta selama tiga bulan pertama tahun 2026. Bahkan, impor pakaian jadi dan aksesori melonjak hingga 5,6 persen. Fenomena ini menciptakan tekanan ganda bagi neraca perdagangan sektor manufaktur, di mana pengeluaran untuk bahan baku meningkat di saat pendapatan dari ekspor justru melandai.
Menanggapi situasi ini, para pengamat ekonomi mencatat bahwa kinerja kuartal pertama 2026 berbanding terbalik dengan tren positif yang sempat terlihat pada tahun 2025, di mana ekspor garmen sempat tumbuh 5,4 persen. "Ketidakpastian ekonomi di pasar-pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa, ditambah dengan persaingan ketat dari negara produsen berbiaya rendah lainnya, memaksa industri lokal untuk melakukan efisiensi besar-besaran," ungkap seorang analis sektor apparel dalam sebuah diskusi di Kolombo.
Meskipun angka-angka menunjukkan tren menurun, signifikansi sektor garmen terhadap ekonomi Sri Lanka tetap tidak tergoyahkan. Dengan menyumbang 47,20 persen dari seluruh ekspor industri nasional, keberlanjutan sektor ini menjadi krusial bagi stabilitas mata uang dan lapangan kerja di negara tersebut. Kini, pemerintah dan para pemangku kepentingan industri diharapkan mampu merumuskan strategi diversifikasi pasar agar tidak terus tergerus oleh fluktuasi permintaan global yang kian tidak menentu pada sisa tahun 2026.