China perlahan mulai menanggalkan citranya sebagai "Pabrik Dunia" yang hanya berfokus pada ekspor besar-besaran. Di tengah dinamika perang tarif dan kebijakan perdagangan global, China kini justru bersiap mengambil peran baru yang strategis: menjadi pasar ekspor utama bagi ekonomi negara-negara Asia lainnya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Sheng Lu, profesor studi fesyen dan pakaian di University of Delaware, mengungkapkan tren mengejutkan terkait pergeseran peran ini. Meskipun China tetap menjadi eksportir pakaian terbesar di dunia, angka impor pakaian mereka melonjak lebih dari tiga kali lipat sejak tahun 2010 hingga 2024. Produk pakaian yang masuk ke China dari negara-negara berkembang di Asia (Asian Developing Countries/ADCs), seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja, tumbuh secara signifikan dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan melampaui 15 persen selama 14 tahun terakhir.
Fenomena ini dipicu oleh kebutuhan negara-negara ADCs untuk mendiversifikasi pasar ekspor mereka akibat pembatasan perdagangan dan tarif yang dihadapi di pasar Amerika Serikat. Sebaliknya, China sendiri sedang melakukan transformasi internal. Karena biaya produksi lokal yang meningkat, industri pakaian China kini lebih memilih untuk "naik kelas". Daripada hanya menjadi produsen barang berbiaya rendah, China kini berfokus pada aktivitas bernilai tambah tinggi seperti desain produk, pencitraan merek (branding), serta layanan kepada konsumen.
Strategi ini membuat produsen China mulai mengadopsi taktik yang mirip dengan perusahaan mode Amerika, yakni memanfaatkan sumber daya luar negeri untuk mendukung kebutuhan pasar domestik China yang sangat besar dan potensial. Dr. Sheng Lu mencatat bahwa produk dari 82 negara lain kini memiliki harga yang lebih kompetitif dibandingkan produk yang dibuat secara lokal di China, yang mendorong ketergantungan China pada impor untuk memenuhi kebutuhan pasarnya.
Meski perannya bergeser, China tidak akan kehilangan posisi dominannya dalam rantai pasok global. Negara ini tetap menjadi pemasok utama bahan baku tekstil yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara Asia lainnya. Selain itu, China kini lebih memprioritaskan kontrol atas rantai pasok global daripada sekadar mengejar volume produksi pakaian yang besar. Dengan lebih dari 60 persen ekspor pakaian dunia kini berasal dari gabungan antara China dan negara-negara berkembang di Asia, tren ini diperkirakan akan terus berlanjut dan membentuk ulang pola perdagangan tekstil global di masa depan.