Raksasa ritel asal Swedia, H&M, kembali menegaskan posisinya bahwa Bangladesh tetap menjadi pasar pengadaan pakaian yang sangat penting bagi perusahaan. Penegasan ini muncul sebagai respons atas spekulasi media yang menyebutkan adanya potensi pengurangan volume pesanan dari negara tersebut. Sebagai pembeli garmen terbesar di Bangladesh, H&M saat ini menyerap produk dari sekitar 300 pabrik lokal dengan nilai transaksi mencapai 5 miliar dolar AS per tahun. Meskipun H&M menolak membeberkan volume produksi atau pangsa pesanan per pasar karena alasan komersial, perusahaan menekankan bahwa kemitraan jangka panjang yang telah terjalin sejak awal 1980-an tetap menjadi fondasi utama kehadiran mereka di Bangladesh.
Di sisi lain, terdapat indikasi mengenai adanya tantangan dalam dinamika pemesanan tahun ini. Mohammad Hatem, Presiden Asosiasi Produsen dan Eksportir Pakaian Rajut Bangladesh (BKMEA), mengungkapkan bahwa dalam pertemuan informal dengan pejabat H&M di Dhaka, pihak perusahaan mengakui adanya penurunan volume pesanan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun tidak merinci angka penurunannya. Hatem menilai bahwa situasi global yang fluktuatif menyebabkan penurunan permintaan di seluruh rantai pasok garmen, yang secara otomatis memengaruhi strategi pengadaan ritel besar seperti H&M.
Lebih lanjut, pelaku industri juga menyoroti adanya kekhawatiran terkait status kelulusan Bangladesh dari kategori negara kurang berkembang (LDC) menjadi negara berkembang pada November tahun ini. Hal ini berpotensi menyebabkan Bangladesh kehilangan akses pasar preferensial ke Uni Eropa dan pasar utama lainnya, yang dapat mengancam daya saing ekspor. Sebagai perbandingan, negara pesaing seperti India kini semakin kompetitif dengan menawarkan berbagai insentif bagi sektor tekstil dan garmen, termasuk dukungan lahan, pembangunan pabrik, serta fasilitas pinjaman bank.
Dunia usaha di Bangladesh saat ini juga menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, tarif timbal balik Amerika Serikat, hingga krisis energi dan tingginya suku bunga bank. Selain itu, gangguan logistik akibat konflik di Timur Tengah telah memicu kenaikan biaya angkutan udara dan memperpanjang waktu pengiriman, yang membuat para pembeli lebih berhati-hati. Mahmud Hasan Khan, Presiden Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh (BGMEA), menjelaskan bahwa lemahnya permintaan global menyebabkan peritel Barat menahan stok yang belum terjual, sehingga memengaruhi keputusan pengadaan mereka. Meskipun menghadapi berbagai rintangan, Bangladesh terus berupaya menjaga posisinya sebagai produsen utama dunia di samping Tiongkok, sambil bersiap menghadapi transisi status ekonomi yang menantang di masa depan.