Print

Sektor industri garmen di Bangladesh tengah menghadapi masa-masa kelam seiring dengan gelombang penutupan pabrik yang terus berlanjut. Terbaru, pabrik Unique Designers dan Unique Washing & Dyeing yang berlokasi di Gazipur secara resmi mengumumkan penutupan permanen mereka. Keputusan ini berdampak pada setidaknya 1.800 pekerja yang kini harus kehilangan mata pencaharian. Meskipun pihak pemilik pabrik berkomitmen untuk melunasi seluruh upah dan hak hukum pekerja paling lambat 27 Juli, peristiwa ini hanyalah bagian dari fenomena yang lebih besar.

Berdasarkan data industri, tercatat sebanyak 457 pabrik di tujuh zona industri utama Bangladesh telah gulung tikar antara Agustus 2024 hingga Juni. Dari jumlah tersebut, 205 pabrik tutup karena minimnya pesanan kerja, sementara 190 lainnya tumbang akibat tekanan finansial. Faktor lain yang memperburuk keadaan mencakup kerusuhan buruh, ketidakstabilan politik, masalah perbankan, hingga krisis gas dan listrik. Presiden Kamar Industri Bangladesh, Anwar-ul Alam Chowdhury Parvez, menjelaskan bahwa krisis modal kerja membuat banyak pabrik tidak mampu membuka surat kredit, yang berujung pada terputusnya pasokan bahan baku dan terhentinya produksi.

Di tengah krisis tersebut, tantangan lain bagi tenaga kerja garmen di Asia Selatan mulai muncul, yakni pergeseran menuju otomasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Di India, para pekerja garmen kini dipasangi kamera di kepala untuk merekam gerakan mereka saat menjahit. Data tersebut digunakan untuk melatih robot agar bisa meniru aktivitas manusia dalam industri padat karya. Perusahaan pengumpul data seperti EgoLab bahkan bekerja sama dengan raksasa teknologi untuk mengekstraksi informasi ini. Namun, praktik ini menuai kecaman karena dianggap memicu eksploitasi pekerja, di mana para buruh yang datanya dipanen tidak mendapatkan kompensasi, padahal hasil akhir dari riset tersebut justru berisiko menggantikan posisi mereka di masa depan.

Menanggapi risiko disrupsi teknologi, Bangladesh mulai berupaya melakukan adaptasi. Tantangan besar seperti buta huruf digital, manual operasional yang hanya tersedia dalam bahasa Inggris, serta minimnya sistem sertifikasi keahlian nasional menjadi hambatan utama dalam upaya peningkatan keterampilan pekerja. Raju Ahmed dari organisasi nirlaba Karmojibi Nari memperingatkan bahwa modernisasi industri harus diimbangi dengan keadilan sosial agar pekerja semi-terampil tidak terpinggirkan ke sektor pekerjaan yang lebih tidak menentu. Sebagai langkah antisipasi, Biro Promosi Ekspor Bangladesh kini menjalin kerja sama untuk melatih lebih dari 22.000 pekerja dan staf guna meningkatkan produktivitas dan kemampuan mereka dalam mengoperasikan mesin modern.