Print

Industri pakaian dan manufaktur tekstil global saat ini tengah mengubah strategi pengadaan mereka secara besar-besaran, beralih dari serat komoditas tradisional menuju material yang ramah lingkungan, bersertifikasi, serta memiliki ketahanan tinggi. Perubahan struktural ini terjadi seiring dengan pengetatan regulasi internasional, terutama Regulasi Desain Ekologis untuk Produk Berkelanjutan (ESPR) dari Uni Eropa, yang mewajibkan ketertelusuran material yang ketat serta batasan konten daur ulang pada produk tekstil impor.

Di tengah transformasi industri yang masif ini, ajang Yarn Expo Autumn dijadwalkan akan kembali digelar pada 25 hingga 27 Agustus 2026 di National Exhibition and Convention Center, Shanghai. Pameran dagang yang diselenggarakan bersama oleh Messe Frankfurt (HK) dan CCPIT-Tex seluas 27.000 meter persegi ini berfungsi sebagai barometer penting bagi inovasi serat dan penentuan anggaran pengadaan musiman di seluruh rantai pasok tekstil global.

Untuk membantu para pengambil keputusan menavigasi volatilitas biaya bahan baku dan pergeseran preferensi konsumen, pameran tahun 2026 ini akan menghadirkan lebih dari 580 peserta pameran internasional yang dibagi ke dalam tujuh zona produk khusus, yaitu Cashmere, Cotton, Chemical Fiber, Fancy Yarn, Linen, Wool, dan International Yarn Zone. Berbagai inovasi dipamerkan untuk mencerminkan tren fungsionalitas teknis dan desain ekologis, seperti PT. Indo-Rama Synthetics Tbk dari Indonesia yang meningkatkan produksi serat poliester daur ulang (rPET) dan benang filamen khusus untuk pakaian aktif, serta Woolyarns dari Selandia Baru yang memamerkan campuran mewah Perino. Selain itu, serat bast alami dan benang khusus turut merebut pangsa pasar seiring tingginya permintaan industri terhadap alternatif biodegradable, seperti benang linen dari Sematex For Flax Products asal Mesir serta benang metalik daur ulang bersertifikat dari Lurex Company asal Inggris.

Lebih lanjut, Yarn Expo Autumn diselenggarakan secara berdampingan dengan pameran dagang besar lainnya seperti Intertextile Shanghai Apparel Fabrics, CHIC, dan PH Value Knitting Fair untuk membentuk ekosistem pengadaan vertikal yang komprehensif di Shanghai. Dengan China yang menyumbang sekitar 40 hingga 45 persen dari ekspor tekstil dunia, pertemuan di Shanghai ini memberikan wawasan pasar yang sangat esensial bagi perusahaan fesyen dalam mengelola risiko, inflasi bahan baku, serta mandat keberlanjutan global menjelang tahun ritel 2027. Melalui program pencocokan bisnis VIP (VIP Business Matching Program), pameran ini tidak hanya menghubungkan lebih dari 500 pemasok internasional dengan 22.000 lebih pembeli perdagangan, tetapi juga mendorong integrasi rantai pasok global yang berfokus pada inovasi berkelanjutan, fungsional, dan serat alami.