Print

Sektor ekspor pakaian jadi Sri Lanka berhasil mencatatkan nilai pengiriman sebesar 2,26 miliar dolar AS sepanjang semester pertama tahun fiskal 2026. Capaian ini diiringi oleh kontraksi tahun-ke-tahun sebesar 5,8 persen akibat fluktuasi permintaan di pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa yang memberikan tekanan nyata terhadap volume pesanan. Kendati menghadapi tantangan besar pada volume utama tersebut, pengiriman ke pasar Inggris justru menunjukkan ketahanan yang kuat. Kondisi ini didukung oleh aturan skema perdagangan negara berkembang atau Developing Countries Trading Scheme (DCTS) yang direvisi, di mana aturan baru tersebut memberikan kemudahan bagi produsen untuk menikmati akses pasar bebas bea dengan memanfaatkan sumber kain global yang lebih fleksibel.

Di sisi lain, penyesuaian inventaris ritel di negara-negara Barat memang sempat menciptakan hambatan jangka pendek bagi pelaku industri. Namun, arus masuk pesanan dari destinasi non-tradisional tercatat tumbuh hingga lebih dari 14 persen, sehingga memberikan alternatif diversifikasi strategis yang sangat berharga. Volatilitas keyakinan konsumen di pasar utama Barat sempat memicu hambatan jangka dekat, tetapi stabilitas buku pesanan dinilai mencerminkan tingginya kepercayaan pembeli terhadap keandalan rantai pasok serta standar kepatuhan etis yang diterapkan oleh para produsen lokal, sebagaimana diungkapkan oleh perwakilan dari Joint Apparel Association Forum (JAAF).

Untuk meredam tekanan margin yang disebabkan oleh kenaikan tarif utilitas domestik dan tingginya tarif pengiriman global, produsen utama seperti MAS Holdings dan Brandix mengambil langkah strategis dengan mengalihkan kapasitas produksi ke segmen pakaian aktif bernilai tinggi serta pakaian intim teknis. Selain itu, konglomerat pakaian jadi Sri Lanka juga memperluas skala operasi perakitan lepas pantai di Afrika Timur demi menyeimbangkan pengeluaran tenaga kerja, sembari tetap mempertahankan unit desain bernilai tinggi di dalam negeri. Keberhasilan ekspansi sektor ini hingga sisa tahun 2026 akan sangat bergantung pada kelanjutan perundingan perdagangan dengan Washington guna mengamankan paritas tarif yang menguntungkan dalam menghadapi para pesaing regional.

Sebagai jangkar industri puncak bagi manufaktur garmen di pulau tersebut, JAAF didirikan untuk menyatukan ekosistem pakaian jadi nasional dengan mewakili para eksportir tekstil terkemuka di Sri Lanka. Menghadapi dinamika global yang terus berubah, forum ini terus mendorong strategi sektor yang berfokus pada pencapaian target ekspor tahunan senilai 8 miliar dolar AS melalui praktik manufaktur yang berkelanjutan, digitalisasi rantai pasok, serta pemanfaatan akses perdagangan preferensial yang lebih luas.