Print

Paruh pertama tahun 2026 menjadi periode yang menantang bagi sektor tekstil dan pakaian jadi India di pasar Amerika Serikat. Berdasarkan data perdagangan terbaru dari Office of Textiles and Apparel (OTEXA), pengiriman produk tekstil dan garmen India ke AS merosot tajam sebesar 1,25 miliar dolar AS atau sekitar 23,3 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara rinci, total impor tekstil dan pakaian jadi AS dari India turun menjadi sekitar 4,10 miliar dolar AS pada Januari hingga Juni 2026, dari yang sebelumnya mencapai 5,35 miliar dolar AS. Angka kontraksi ini tercatat jauh lebih dalam—lebih dari tiga kali lipat—jika dibandingkan penurunan total impor tekstil keseluruhan AS yang terkoreksi 7,1 persen ke angka 47,67 miliar dolar AS. Akibatnya, pangsa pasar India di AS menyusut sekitar 1,8 persentase poin menjadi 8,6 persen pada paruh pertama 2026.

Ketidakpastian terkait kebijakan tarif yang membayangi pemasok India selama siklus pemesanan barang diduga menjadi salah satu pemicu utama penurunan ini. Kondisi tarif yang tidak menentu pada akhir 2025 dan awal 2026 memengaruhi keputusan pembeli di AS saat mengalokasikan pesanan untuk musim semi dan panas. Meskipun tekanan tarif kemudian mereda, rantai pasok dan jadwal pengiriman yang telah dikunci sebelumnya membuat pemulihan tidak terjadi secara instan.

Kendati permintaan keseluruhan AS melemah, performa negara-negara pesaing menunjukkan bahwa penurunan ini bukan semata-mata karena faktor pasar. Pengiriman tekstil dan pakaian jadi dari kawasan ASEAN ke AS justru naik 4,5 persen secara tahunan menjadi 15,34 miliar dolar AS. Vietnam mencatat pertumbuhan 3 persen (8,78 miliar dolar AS), Kamboja naik 11,3 persen (2,68 miliar dolar AS), dan Indonesia tumbuh 3,6 persen (2,69 miliar dolar AS).

Bangladesh juga mencatatkan hasil yang lebih baik dengan nilai impor AS sebesar 4,12 miliar dolar AS, melampaui posisi India tipis sekitar 21 juta dolar AS. Sementara itu, meskipun China mengalami penurunan terbesar dalam nilai absolut hingga 6,56 miliar dolar AS, India tampak gagal memanfaatkan peluang kekosongan pasar tersebut yang justru berhasil direbut oleh para kompetitor di kawasan Asia.