Print

Sektor garmen dan tekstil di Bangladesh tengah berada di ambang ujian terberat menyusul krisis energi akut yang melumpuhkan sebagian besar lini produksi. Kelangkaan gas alam yang kian memburuk tidak hanya memperlambat operasional pabrik jahit, tetapi juga memicu disrupsi total pada proses hulu seperti pencelupan, pencucian, dan pengeringan kain. Akibat krisis ini, asosiasi industri memperkirakan volume produksi garmen nasional merosot tajam hingga 40 persen, memaksa para eksportir mengajukan perpanjangan batas waktu pengiriman kepada pembeli global.

Akar masalah ini bermula dari gangguan infrastruktur gas alam cair atau LNG impor, di mana salah satu dari dua terminal apung utama mengalami kebakaran pada bulan Juli lalu. Meskipun operasional parsial telah dipulihkan, pasokan gas yang seret dan pemadaman listrik berkala tetap memaksa pemerintah memberlakukan kebijakan penghematan energi yang ketat. Bagi industri pakaian siap pakai, ketergantungan pada bahan bakar fosil telah menciptakan kerentanan struktural yang mendalam.

Berdasarkan riset terbaru dari Centre for Policy Dialogue (CPD), sektor garmen Bangladesh terperangkap dalam dilema dekarbonisasi. Di satu sisi, pabrik-pabrik sangat bergantung pada gas untuk menghasilkan energi termal yang mutlak diperlukan dalam proses pewarnaan kain, sebuah tahapan intensif energi yang tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh listrik tenaga surya atap. Di sisi lain, para pembeli global kini semakin agresif menuntut standar emisi rendah pada rantai pasok mereka, menempatkan posisi ekspor Bangladesh di bawah bayang-bayang persaingan ketat dengan negara tetangga seperti India, Pakistan, dan Vietnam.

Upaya transisi hijau juga terbentur oleh kendala finansial dan kesenjangan teknologi yang lebar antara pabrik skala besar dan kecil. Pabrik-pabrik kecil kerap terkendala mesin tua dan akses pendanaan yang terbatas. Kendati inisiatif pendanaan hijau seperti yang digulirkan oleh H&M mulai masuk melalui program khusus, para pelaku industri mendesak pemerintah untuk menyelaraskan kebijakan fiskal, termasuk penghapusan pajak atas investasi energi terbarukan.

Kini, bagi industri garmen Bangladesh, dekarbonisasi bukan lagi sekadar instrumen untuk memenuhi target emisi lingkungan internasional. Lebih dari itu, transformasi menuju sistem energi yang bersih dan efisien telah menjadi taruhan hidup-mati demi mempertahankan daya saing dan memastikan pabrik-pabrik tetap dapat beroperasi di tengah ketidakpastian global.