Industri pakaian jadi Sri Lanka kini mulai mengalihkan pandangannya melampaui proses manufaktur garmen untuk memperkuat fase pertumbuhan ekspor berikutnya. Sektor ini secara aktif mendorong peningkatan investasi pada pabrik kain dan manufaktur hulu, sekaligus mengupayakan akses perdagangan yang lebih baik ke Amerika Serikat. Langkah strategis ini diambil seiring target negara tersebut untuk mencapai nilai ekspor pakaian sebesar 8 miliar dolar AS pada tahun 2030.
Asosiasi pengusaha tekstil setempat, Joint Apparel Association Forum (JAAF), menyatakan bahwa ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi hambatan utama. Saat ini, produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar sepertiga dari total kebutuhan benang sintetis dan kain di Sri Lanka. Padahal, Departemen Perdagangan Amerika Serikat mencatat bahwa sektor garmen Sri Lanka menghabiskan sekitar 2 miliar dolar AS setiap tahunnya hanya untuk mengimpor bahan baku, terutama kain mentah, denim, benang poliester, serta kain khusus.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, JAAF mendesak pemberian insentif guna menarik investasi asing ke sektor pemintalan dan fabrikasi kain. Selain itu, para produsen yang ada juga didorong untuk berinvestasi kembali pada fasilitas hulu, pembuatan perlengkapan hiasan garmen, hingga industri pengemasan.
Di sisi pasar tujuan, Amerika Serikat tetap menjadi fokus utama. Ekspor tekstil dan pakaian Sri Lanka secara keseluruhan berhasil menyentuh angka 5,02 miliar dolar AS pada tahun 2025, naik 5,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. AS menyumbang porsi terbesar dengan nilai 1,95 miliar dolar AS, disusul oleh Uni Eropa dan Inggris.
Guna memperlancar arus ekspor ke AS, pemerintah Sri Lanka terus menjalin diplomasi intensif dengan Washington. Hasilnya, pada Juli 2026, AS memasukkan Sri Lanka ke dalam tarif Section 301 sebesar 10 persen setelah negara tersebut berkomitmen memperketat pengawasan terhadap praktik kerja paksa pada rantai pasok impornya.
Peluang positif juga datang dari pasar Inggris. Sejak awal tahun 2026, aturan baru skema perdagangan negara berkembang di Inggris memberi fleksibilitas bagi produsen Sri Lanka untuk mengambil 47,5 hingga 100 persen bahan baku dari pasar global. Kemudahan ini menghapus aturan transformasi ganda yang sebelumnya cukup memberatkan, sehingga memberikan angin segar bagi daya saing produk garmen Sri Lanka di kancah internasional.