Print

Industri tekstil dan pakaian jadi Vietnam masih berpeluang mengejar target nilai ekspor sebesar 48 miliar dolar AS pada tahun 2026. Kendati demikian, persoalan mendasar di rantai pasok domestik kini menjadi ujian berat. Pertumbuhan pesat sektor manufaktur negara tersebut makin menyingkap kelemahan kronis pada kapasitas industri hulu (upstream), khususnya ketergantungan yang masih tinggi terhadap pasokan kain dari luar negeri.

Berdasarkan data Asosiasi Tekstil dan Pakaian Jadi Vietnam (VITAS), total ekspor industri tekstil dan garmen sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai hampir 31,7 miliar dolar AS, atau tumbuh 2,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Walaupun kapasitas jahit dan produksi garmen jadi sangat tangguh, nilai tambah domestik yang dihasilkan masih tergolong rendah karena impor bahan baku yang sangat besar.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam mencatat bahwa produksi kain dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 36 persen dari total kebutuhan industri garmen nasional. Artinya, terdapat celah ketergantungan kain impor sebesar 64 persen. Sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026 saja, Vietnam telah mengimpor kain senilai 8,936 miliar dolar AS, diikuti impor kapas sebesar 1,885 miliar dolar AS dan aksesori garmen senilai 2,605 miliar dolar AS. Keterbatasan bahan baku lokal ini berimbas langsung pada durasi produksi, fleksibilitas margin keuntungan, hingga pemenuhan syarat aturan asal barang (rules of origin) dalam kesepakatan perdagangan bebas.

Di samping masalah bahan baku, ketergantungan pasar pada Amerika Serikat juga memicu risiko bisnis. AS menyerap sekitar 38,9 persen dari total ekspor garmen Vietnam pada semester pertama 2026. Penerapan tarif masuk sebesar 12,5 persen oleh AS—lebih tinggi dari tarif 10 persen yang dikenakan pada sejumlah negara pesaing di Asia—membuat para produsen Vietnam harus bekerja ekstra keras dalam mempertahankan pesanan dan menjaga stabilitas harga.

Tantangan makin ketat ketika pasar Uni Eropa mulai menerapkan regulasi transparansi rantai pasok dan keberlanjutan lingkungan yang lebih mengikat. Persyaratan seperti pelacakan asal-usul bahan baku, rekam jejak karbon, hingga larangan pemusnahan sisa produk yang tidak terjual menuntut penyesuaian besar-besaran dari para pemasok Vietnam.

Guna mencapai target sisa ekspor senilai 16,3 miliar dolar AS pada empat bulan terakhir tahun 2026, efisiensi biaya dan keandalan pasokan menjadi kunci utama. Masa depan industri garmen Vietnam kini tidak lagi sekadar ditentukan oleh seberapa banyak baju yang mampu dijahit, melainkan seberapa besar porsi pengerjaan, bahan baku, dan desain yang dapat diproduksi secara mandiri di dalam negeri.