Print

Sektor ritel gaya hidup dan fesyen di Inggris mengawali tahun 2026 dengan napas yang terengah-engah. Berdasarkan data terbaru dari High Street Sales Tracker yang dirilis oleh firma penasihat bisnis BDO, penjualan ritel diskresioner hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,7 persen secara tahunan (YoY) pada Januari ini. Angka tersebut menjadi sinyal waspada bagi para pelaku usaha karena pertumbuhan yang terjadi masih tertinggal jauh di bawah tingkat inflasi, yang mengindikasikan bahwa volume penjualan secara riil sebenarnya sedang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tipis ini merupakan kelanjutan dari akhir tahun 2025 yang mengecewakan, di mana penjualan toko fisik sempat merosot 0.5 persen pada bulan Desember. Meski angka kunjungan ke pusat perbelanjaan (high street) terlihat tumbuh positif sebesar 4,7 persen di awal Januari, lonjakan tersebut hampir sepenuhnya dipicu oleh strategi diskon besar-besaran setelah momen Natal. Para peritel terpaksa memangkas harga secara agresif untuk membersihkan tumpukan stok gudang yang tidak laku selama musim liburan, demi menjaga arus kas tetap mengalir untuk koleksi musim baru. Namun, gairah belanja ini terbukti singkat karena total penjualan, baik daring maupun luring, kembali rontok pada dua minggu terakhir Januari.

Sophie Michael, Kepala Ritel dan Grosir di BDO, memperingatkan bahwa angka pertumbuhan di permukaan ini bisa menipu. "Sekilas hasil ini tampak seperti alasan untuk optimisme yang hati-hati, namun jika dilihat lebih dekat, lingkungan perdagangan bagi peritel hampir tidak membaik di tahun baru," ujarnya. Ia menambahkan bahwa aktivitas promosi besar-besaran ini bagaikan pedang bermata dua; di satu sisi mengosongkan gudang, namun di sisi lain menggerus margin keuntungan yang sudah setipis kertas. Kondisi ini menandai kali kesembilan dalam dua belas bulan terakhir di mana pertumbuhan total penjualan gagal melampaui laju inflasi, mencerminkan kondisi perdagangan jangka panjang yang sangat sulit bagi sektor gaya hidup.

Memasuki bulan Februari, industri ritel Inggris diprediksi akan melangkah dengan sangat hati-hati di tengah lanskap ekonomi yang tidak menentu. Kurangnya arah kebijakan ekonomi yang jelas, ditambah dengan meningkatnya angka pengangguran dan penurunan pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income), menjadi tantangan berat untuk mendorong konsumen kembali berbelanja barang-barang non-primer. Michael menekankan bahwa peritel harus lebih inovatif dan gesit dalam menavigasi perilaku konsumen yang terus berubah agar tetap bisa bertahan di tengah badai ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.