Kabar buruk kembali berembus dari jantung industri kreatif dan manufaktur Benua Biru. Konfederasi Pakaian dan Tekstil Eropa, atau yang lebih dikenal sebagai Euratex, mengeluarkan peringatan keras bahwa Eropa sedang berada dalam fase kehilangan industri tekstilnya secara permanen. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi ekonomi biasa, melainkan sebuah pengikisan daya saing yang berkelanjutan yang mengancam mata pencaharian sekitar 1,3 juta pekerja yang tersebar di 200.000 perusahaan kecil dan menengah.
Pemandangan suram ini terlihat dari laporan mingguan yang mencatat penutupan pabrik-pabrik tekstil di berbagai wilayah Eropa. Setiap gerbang pabrik yang terkunci secara permanen membawa dampak domino yang menghancurkan: hilangnya lapangan kerja, lumpuhnya ekonomi komunitas lokal, hingga hilangnya kemampuan strategis manufaktur yang telah dibangun selama lintas generasi. Sejak pertengahan tahun 2022, volume manufaktur terus menunjukkan tren menurun, di mana pada sektor pakaian, lonjakan pendapatan yang sempat terjadi pada 2023 terbukti hanya bersifat semu akibat inflasi. Memasuki tahun 2024 dan 2025, permintaan pasar benar-benar runtuh, membawa angka penyerapan tenaga kerja ke titik terendah dengan percepatan kerugian mencapai minus 4,6 persen.
Penyebab krisis ini digambarkan sebagai "badai sempurna" yang datang dari berbagai arah. Tingginya biaya energi yang struktural di Eropa membuat biaya produksi membumbung tinggi, sementara di saat yang sama, daya beli konsumen sedang lesu. Tekanan semakin berat dengan masuknya produk impor murah dari Asia serta persaingan yang dianggap tidak sehat dari platform belanja daring global seperti Shein dan Temu. Para pelaku industri lokal merasa tercekik oleh regulasi domestik yang ketat sementara barang impor sering kali masuk tanpa standar keamanan dan lingkungan yang setara.
Presiden Euratex, Mario Jorge Machado, dalam pernyataan resminya menekankan bahwa Eropa harus bertindak lebih cepat dan tegas jika masih ingin mempertahankan basis manufakturnya. Menurutnya, setiap minggu ada perusahaan yang gulung tikar, yang berarti produksi akan berpindah ke luar negeri, ketergantungan Eropa terhadap pihak asing meningkat, dan jejak karbon global justru semakin besar. Hal ini sangat ironis karena bertolak belakang dengan ambisi "Green Deal" Uni Eropa yang menargetkan netralitas iklim pada tahun 2050. Tanpa adanya pabrik lokal, infrastruktur untuk mendaur ulang tekstil yang direncanakan dalam ekonomi sirkular tidak akan pernah terwujud.
Meski Uni Eropa tengah menyiapkan berbagai langkah seperti reformasi bea cukai dan strategi "Buy European", banyak pihak menilai birokrasi bergerak terlalu lambat. Salah satu poin krusial adalah penghapusan ambang batas pembebasan bea masuk 150 euro yang dijadwalkan pada Juli mendatang, yang selama ini menguntungkan raksasa e-commerce luar negeri. Namun, sistem pengawasan pasar yang lebih ketat baru akan berlaku penuh pada tahun 2028, sebuah penantian yang dianggap terlalu lama bagi industri yang sedang sekarat. Jika tindakan darurat tidak segera diambil untuk menekan biaya energi dan menyederhanakan regulasi, Eropa berisiko kehilangan kedaulatan industrinya, mulai dari pasokan tekstil untuk sektor kesehatan, otomotif, hingga pertahanan.