Print

Industri manufaktur pakaian jadi di Britania Raya tengah menghadapi tekanan berat menyusul rilis data ekonomi terbaru yang menunjukkan penurunan signifikan pada aktivitas perdagangan luar negeri mereka. Berdasarkan laporan resmi dari Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris, nilai ekspor pakaian dari negara tersebut merosot sebesar 7,87 persen menjadi hanya £655 juta atau setara dengan 884,96 juta dolar AS sepanjang kuartal pertama yang mencakup periode Januari hingga Maret 2026. Angka ini mencerminkan kelesuan pasar yang mendalam di sejumlah negara sekutu utamanya di Eropa Barat, yang selama ini menjadi penopang utama produk fesyen siap pakai asal Inggris.

Penurunan tajam ini terlihat semakin mengkhawatirkan jika dibandingkan secara kuartalan. Volume pengiriman pakaian jadi pada tiga bulan pertama tahun 2026 ini anjlok hingga 22,94 persen jika disandingkan dengan performa kuartal keempat tahun 2025 yang sempat menyentuh angka £850 juta berkat dongkrak belanja musim liburan akhir tahun. Tidak hanya pakaian jadi, sektor hulu tekstil Inggris juga ikut terimbas di mana ekspor kain tekstil turun 5,87 persen menjadi £625 juta, sementara ekspor serat komoditas mentah mengalami kejatuhan paling telak hingga 28,9 persen menjadi hanya £135 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Merespons situasi pelik ini, pengamat industri ritel dari British Fashion Council menyatakan bahwa pelemahan ini merupakan kombinasi fatal dari tingginya biaya energi domestik yang membebani ongkos produksi pabrik dan inflasi persisten yang memangkas daya beli masyarakat Eropa Tengah. Ketidakpastian geopolitik global yang mengganggu rantai pasok logistik laut juga membuat produk Inggris kalah bersaing dalam hal kecepatan distribusi. Melemahnya permintaan di pasar Uni Eropa pasca-Brexit yang kian rumit secara birokrasi perdagangan dituding menjadi faktor utama yang membuat para peritel di negara tujuan mulai mengalihkan pesanan mereka ke produsen Asia atau Eropa Timur.

Jika ditarik garis linier ke belakang, tren penurunan ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari koreksi pasar pasca-pandemi yang terus memburuk dari tahun ke tahun. Ekspor pakaian tahunan Inggris tercatat terus menyusut dari £4,263 miliar pada tahun 2021 menjadi £3,772 miliar pada 2023, dan berlanjut merosot hingga menyentuh angka £3,013 miliar pada penutupan tahun 2025. Kendati data bulanan pada Maret 2026 sempat menunjukkan indikasi pemulihan tipis dengan kenaikan marginal dibanding Februari, para pelaku usaha tetap bersikap realistis dan meminta pemerintah Inggris segera mengintervensi dengan kebijakan insentif pajak ekspor guna menyelamatkan industri yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja lokal ini dari ancaman kebangkrutan massal.