Print

Kabar buruk kembali berembus dari jantung benua biru, di mana industri tekstil dan pakaian jadi Eropa dilaporkan tengah mengalami erosi daya saing yang sangat mengkhawatirkan. Setiap pekan, pabrik-pabrik tekstil di berbagai negara anggota Uni Eropa terus berguguran dan menutup operasional mereka, membawa dampak domino berupa hilangnya lapangan kerja, lumpuhnya komunitas lokal, hingga hilangnya kapabilitas strategis manufaktur kawasan. Berdasarkan rilis laporan ekonomi terbaru dari Konfederasi Pakaian dan Tekstil Eropa (EURATEX), sektor ini mencatat rapor merah selama tiga tahun berturut-turut (2023–2025) pada seluruh indikator kinerja utama, mulai dari volume produksi, omzet pendapatan, hingga angka penyerapan tenaga kerja.

Ambruknya ketahanan industri tekstil Eropa dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan beban internal yang kian tak tertahankan. Pelaku usaha di Eropa kini harus beroperasi di tengah struktur biaya energi yang melambung tinggi pasca-krisis geopolitik, melemahnya daya beli konsumen domestik, serta hantaman bertubi-tubi dari tekanan impor produk murah asal Asia. Situasi ini diperparah oleh penetrasi platform belanja daring transnasional yang kerap memanfaatkan celah regulasi, di saat para produsen lokal Eropa justru diwajibkan mematuhi beban regulasi hijau dan sirkularitas yang semakin rumit dan birokratis.

Menanggapi situasi kritis ini, Presiden EURATEX, Mario Jorge Machado, memberikan peringatan keras kepada Komisi Eropa dan negara-negara anggota untuk segera mengambil tindakan konkret sebelum akhir tahun 2026. Menurutnya, jika para pengambil kebijakan di Brussels tidak bergerak cepat, maka ketergantungan Eropa terhadap pasokan luar negeri akan semakin membengkak, yang pada akhirnya justru kontradiktif dengan komitmen penurunan jejak karbon global Uni Eropa. "Jika Eropa serius ingin mempertahankan basis manufakturnya, mereka harus bertindak lebih cepat dan tegas. Setiap minggu, perusahaan tekstil bertumbangan. Produksi berpindah ke tempat lain, ketergantungan meningkat, dan jejak karbon justru membesar," tegas Machado dalam pernyataan resminya.

Melihat fenomena jatuhnya industri hilir dan hulu di Eropa, pengamat industri tekstil global menilai bahwa apa yang terjadi di Uni Eropa seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara produsen di kawasan lain, termasuk Indonesia. Kemiripan tantangan terkait rumitnya birokrasi, disparitas biaya energi, dan banjirnya produk impor ilegal di pasar domestik menunjukkan bahwa industri padat karya memerlukan proteksi dan insentif yang presisi agar mampu bertahan. Tekstil bukan sekadar komoditas mode atau alas kaki yang mendefinisikan identitas kultural, melainkan ekosistem industri strategis yang memasok rantai nilai krusial lainnya mulai dari sektor kesehatan, pertahanan, mobilitas, hingga konstruksi bangunan. Industri ini merupakan pilar yang terlalu berharga untuk dibiarkan runtuh begitu saja dalam pusaran persaingan global yang tidak sehat.