Print

Pasar pakaian berkelanjutan di Britania Raya kini tengah mengalami penataan ulang struktural yang sangat masif, di mana pakaian prapemilik berhasil mendominasi pengeluaran konsumen yang peduli lingkungan. Dari total £1,37 miliar atau sekitar $1,84 miliar yang dihabiskan setiap tahunnya untuk fesyen berkelanjutan, pakaian bekas menyumbang hampir 93 persen atau setara dengan £1,28 miliar, sementara pakaian berkelanjutan baru hanya menguasai porsi yang sangat kecil yakni £93 juta.

Dengan nilai pasar keseluruhan yang melampaui £7 miliar, sektor barang resale di Inggris saat ini mewakili sekitar 25 persen dari seluruh transaksi fesyen domestik. Peritel jalan utama terkemuka seperti Marks & Spencer, Primark, dan Zara bahkan telah mengintegrasikan model pengembalian, perbaikan, dan penjualan kembali secara langsung ke dalam operasional bisnis mereka guna mempertahankan basis pelanggan yang semakin peduli dengan pengeluaran.

Kendati permintaan konsumen tergolong sangat kuat, pengembangan ekonomi sirkular ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan rantai pasok. Inggris tercatat menghasilkan sekitar 744.000 metrik ton limbah tekstil pascakonsumen setiap tahunnya, di mana sebagian besar di antaranya masih berakhir di tempat pembuangan akhir atau insinerasi akibat keterbatasan fasilitas pemilahan. Menanggapi kendala tersebut, merek-merek ritel kini mulai menyesuaikan standar konstruksi pakaian dengan memprioritaskan aspek ketahanan, kemudahan perbaikan, dan daur ulang serat otomatis. Eleanor Vance selaku Analis Senior Sirkularitas di Retail Vision Group menyatakan bahwa konsumen kini semakin memandang perpanjangan umur pakaian sebagai tolok ukur utama dari keberlanjutan.

Untuk menjaga marjin keuntungan di tengah ketatnya persaingan, perusahaan pakaian dituntut untuk mengelola platform jual-beli kembali sebagai saluran komersial inti alih-alih sekadar proyek sampingan pemasaran. Berakar dari jaringan amal tradisional, sektor pakaian bekas di Inggris kini telah berkembang pesat menjadi platform digital dan saluran ritel terintegrasi yang mencakup pakaian wanita, pakaian aktif, hingga barang mewah vintage, serta diproyeksikan akan terus tumbuh sebesar 9 persen setiap tahunnya hingga tahun 2029.