Print

Defisit perdagangan tekstil dan pakaian jadi di kawasan Uni Eropa mengalami penyusutan yang signifikan pada awal tahun 2026. Berdasarkan laporan EURATEX, defisit perdagangan tersebut mencatat penurunan tajam sebesar 19,1 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun ini. Namun di balik perbaikan neraca dagang tersebut, realitas industri di dalam negeri justru menunjukkan kondisi yang jauh dari kata pulih sepenuhnya.

Penyusutan defisit ini utamanya digerakkan oleh penurunan nilai impor dari luar kawasan Uni Eropa yang merosot hingga 11,4 persen, jauh lebih cepat dibanding penurunan ekspor yang hanya terkoreksi 2,7 persen. EURATEX menegaskan bahwa fenomena ini lebih tepat disebut sebagai kompresi perdagangan daripada sebuah pemulihan struktural. Pasalnya, pabrik-pabrik di Uni Eropa secara bersamaan mengalami penurunan produksi, di mana produksi pakaian jatuh 5,1 persen dan output tekstil menyusut 4,2 persen.

Data dari TexPro juga memperkuat indikasi pelemahan ini, di mana nilai impor tekstil ekstra-Uni Eropa turun dari sekitar 9,46 miliar euro pada kuartal pertama 2025 menjadi 8,46 miliar euro pada kuartal pertama 2026. Tren pelemahan ini bahkan terus berlanjut hingga bulan Mei, menunjukkan bahwa berkurangnya pembelian dari luar negeri bukan murni cerminan dari substitusi impor, melainkan akibat melemahnya permintaan fisik secara keseluruhan. Selain itu, penurunan nilai impor yang lebih tajam dibanding penurunan kuantitas barang mengindikasikan adanya faktor penurunan harga dan pergeseran bauran produk.

Di tengah pasar yang sedang menyusut, dinamika pangsa pasar antarnegara pemasok utama turut mengalami pergeseran. China tercatat berhasil meningkatkan pangsa pasarnya dari 26,5 persen menjadi 27,3 persen pada kuartal pertama 2026, sementara pangsa pasar Bangladesh dan Turki justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa beberapa pemasok tetap mampu memperbesar persentase pangsa pasar meskipun volume penjualan secara keseluruhan sedang menurun, karena para pesaingnya mengalami kejatuhan yang lebih dalam.

Secara struktural, industri tekstil dan pakaian jadi Uni Eropa tetap sangat bergantung pada pasar impor dengan angka tahunan mencapai 122 miliar euro, yang nilainya dua kali lipat lebih besar dibanding ekspor mereka. Dengan sektor yang mempekerjakan 1,2 juta tenaga kerja ini masih menghadapi tren penurunan produksi selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025, penyusutan defisit perdagangan ini lebih menyuarakan sebuah peringatan. Uni Eropa memang mengimpor lebih sedikit barang dari luar, tetapi pabrik-pabrik di dalam negeri belum mampu mengisi kekosongan tersebut.