Memasuki tahun 2026, panggung ekonomi global tengah bersiap menghadapi periode volatilitas yang intens, didorong oleh pergeseran kebijakan tarif Amerika Serikat, stimulus fiskal masif, dan investasi kecerdasan buatan (AI) yang terus memecahkan rekor. Berdasarkan analisis terbaru dari Franklin Templeton, ketidakpastian ini akan menjadi fitur utama yang mendefinisikan pasar sepanjang tahun mendatang. Meskipun ketakutan akan stagflasi belum menjadi kenyataan, para pelaku pasar kini dihadapkan pada lanskap pertumbuhan yang tidak merata, di mana kebijakan makroekonomi kembali mengambil kendali penuh atas dinamika investasi global.
Sonal Desai, Chief Investment Officer di Franklin Templeton Fixed Income, memberikan pandangan konstruktif namun waspada terkait pertumbuhan AS. Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tetap tangguh, terutama dengan adanya dorongan dari stimulus fiskal substansial di awal tahun 2026. Menurut estimasi Brookings Institution, stimulus ini berpotensi menambah lebih dari satu poin persentase pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, optimisme ini dibayangi oleh risiko inflasi yang cenderung meningkat pada paruh pertama tahun 2026. Desai memperingatkan bahwa langkah-langkah fiskal tambahan dan potensi potongan terkait tarif dapat mendongkrak pengeluaran konsumen ke titik yang berisiko mendorong inflasi kembali ke kisaran 3,5 hingga 4 persen.
Di sisi lain, Federal Reserve menghadapi tantangan berat setelah melakukan pemangkasan suku bunga kumulatif sebesar 175 basis poin hingga menyentuh angka 3,5-3,75 persen. Perpecahan internal dalam komite pasar terbuka (FOMC) serta ekspansi neraca melalui pembelian surat utang jangka pendek mencerminkan kekhawatiran bahwa defisit fiskal yang besar dapat memperkuat tekanan inflasi jangka panjang. Kondisi ini tercermin pada imbal hasil Treasury AS jangka panjang yang tetap naik meskipun suku bunga acuan dipangkas, menunjukkan kegelisahan investor terhadap kebijakan fiskal yang terlalu longgar.
Lanskap global juga kian rumit dengan perlambatan struktural di Tiongkok, peningkatan belanja pertahanan di Eropa, serta kemajuan pesat AI yang mulai mengubah produktivitas namun membuat perusahaan lebih selektif dalam perekrutan tenaga kerja non-teknis. "Kekuatan makroekonomi kini kembali duduk di kursi pengemudi, dibentuk oleh keberpihakan geopolitik dan kemajuan AI yang cepat," ujar Desai. Di tengah nilai tukar dolar AS yang tetap kuat secara historis dan valuasi pasar yang sudah sangat tinggi, para ahli sepakat bahwa manajemen aktif dan diversifikasi akan menjadi instrumen krusial bagi investor untuk bertahan di tengah arus ketidakpastian yang akan mendominasi tahun 2026.