Print

PT Asia Pacific Investama Tbk (MYTX) berhasil membalikkan kinerja keuangan menjadi laba pada semester I 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp57,94 miliar setelah pada periode yang sama tahun lalu masih mencatatkan rugi bersih Rp14,82 miliar. Perbaikan tersebut terutama didorong lonjakan keuntungan selisih kurs yang mencapai hampir Rp100 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (17/7/2026), penjualan bersih MYTX mencapai Rp508,21 miliar atau meningkat 3,60 persen dibandingkan Rp490,54 miliar pada semester I 2025.

Pertumbuhan penjualan terutama berasal dari segmen denim yang naik menjadi Rp249,35 miliar dari Rp218,13 miliar serta segmen benang yang meningkat menjadi Rp92,99 miliar dari Rp60,13 miliar. Sebaliknya, penjualan kain greige turun menjadi Rp70,79 miliar dari Rp90,45 miliar.

Kontribusi pendapatan lainnya berasal dari jasa maklon sebesar Rp33,32 miliar, finished fabrics Rp26,58 miliar, garmen Rp25,50 miliar, serta segmen lainnya sebesar Rp16,63 miliar.

Di sisi lain, retur penjualan meningkat menjadi Rp6,86 miliar dari Rp3,42 miliar, sementara beban diskon berhasil ditekan menjadi Rp123 juta dibandingkan Rp225 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dua perusahaan afiliasi masih menjadi pelanggan terbesar perseroan. PT Indah Jaya Textile Industry mencatatkan pembelian senilai Rp136,41 miliar, meningkat dibandingkan Rp130,04 miliar pada semester I 2025. Sementara pembelian PT Spinmill Indah Industry turun menjadi Rp27,08 miliar dari Rp33,02 miliar. Secara keseluruhan, kedua perusahaan tersebut menyumbang sekitar 32,17 persen dari total penjualan MYTX.

Meski pendapatan meningkat, beban pokok penjualan naik lebih tinggi sebesar 5,05 persen menjadi Rp510,19 miliar. Kondisi tersebut membuat perseroan membukukan rugi bruto sebesar Rp1,97 miliar, berbalik dari laba bruto Rp4,93 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Beban penjualan juga meningkat menjadi Rp6,30 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi turun menjadi Rp6,73 miliar.

Perbaikan kinerja terutama ditopang keuntungan selisih kurs bersih yang melonjak drastis menjadi Rp99,91 miliar dibandingkan hanya Rp8,10 miliar pada semester I 2025. Meski penghasilan lain-lain turun menjadi Rp2,10 miliar dari Rp12,69 miliar, lonjakan keuntungan selisih kurs tersebut mendorong laba usaha meningkat sekitar tujuh kali lipat menjadi Rp87 miliar.

Setelah memperhitungkan pajak dan pos lainnya, MYTX membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp57,94 miliar. Laba per saham dasar dan dilusian juga berbalik positif menjadi Rp7,48 per saham, dibandingkan rugi Rp1,91 per saham pada semester I 2025.

Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat menjadi Rp3,50 triliun dari Rp3,34 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Total liabilitas juga naik menjadi Rp4,05 triliun dari Rp3,92 triliun. Defisiensi modal membaik menjadi Rp546,95 miliar dibandingkan Rp581,86 miliar pada periode sebelumnya.

Meski kembali mencetak laba, manajemen mengakui kondisi keuangan grup masih menghadapi tantangan. Perseroan masih mencatat defisit sebesar Rp3,39 triliun dan defisiensi modal sekitar Rp534 miliar. Selain itu, liabilitas jangka pendek masih lebih besar dibandingkan aset lancar sebesar Rp1,34 triliun, yang menunjukkan adanya ketidakpastian material terhadap kelangsungan usaha.

Untuk memperkuat kondisi keuangan, MYTX berencana memperluas pasar, meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi, melakukan diversifikasi produk, mengelola risiko nilai tukar, menekan biaya operasional, serta meningkatkan profitabilitas. Perseroan juga menyatakan tetap memperoleh dukungan dari pemegang saham utama guna menjaga kelangsungan operasional perusahaan.

Sebagai produsen benang dan kain denim, MYTX memasok berbagai merek internasional seperti Levi's, Lea, dan Wrangler, serta dikenal sebagai salah satu eksportir bahan denim terbesar di Asia.

Sementara itu, hingga jeda sesi pertama perdagangan Jumat (17/7/2026), saham MYTX masih berstatus suspensi di Bursa Efek Indonesia sejak 24 Februari 2026. Perseroan sebelumnya berupaya memulihkan status perdagangan saham melalui penjajakan divestasi kepada investor strategis. Namun, berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan Sekretaris Perusahaan Kristina Bay Maca pada Desember 2025, proses tersebut masih menghadapi kendala sehingga belum menunjukkan perkembangan lebih lanjut.