Eropa kini tengah berpacu dengan waktu untuk mengatasi krisis limbah tekstil yang kian menggunung. Di tengah dominasi tren fast fashion, sebuah laporan terbaru dari Boston Consulting Group (BCG) dan inisiatif ReHubs memberikan peringatan keras: ambisi membangun ekonomi tekstil sirkular di benua tersebut membutuhkan investasi raksasa hingga 11 miliar euro atau sekitar 190 triliun rupiah pada tahun 2035. Tanpa suntikan modal besar-besaran, upaya mengubah pakaian bekas menjadi serat baru hanya akan menjadi angan-angan semata.
India tengah berada di ambang transformasi besar dalam peta perdagangan tekstil global. Setelah sekian lama industri dalam negeri mengeluhkan beban tarif rata-rata sebesar 12 persen yang membuat produk mereka kalah bersaing dengan Bangladesh dan Vietnam di pasar Uni Eropa (UE), kini angin segar berembus. Kesepakatan untuk menghapuskan tarif bagi sektor garmen India di UE telah tercapai. Namun, sebuah pertanyaan besar membayangi pusat-pusat manufaktur dari Tirupur hingga Ludhiana: mampukah nol persen tarif secara otomatis mengubah India menjadi penguasa baru pasar mode Eropa?
Industri mode global sedang berada di ambang transformasi besar seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu lingkungan. Tren recycled fashion atau pakaian hasil daur ulang kini bukan lagi sekadar isu pinggiran, melainkan telah menjadi kekuatan utama di pasar arus utama. Berdasarkan data terbaru dari pemasok pakaian asal Inggris, A.M. Custom Clothing, terdapat lonjakan luar biasa sebesar 76 persen dalam produksi pakaian berbahan daur ulang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di tengah euforia material baru tersebut, serat alami seperti katun organik ternyata masih memegang kendali kuat dengan volume penggunaan tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan material daur ulang.
Eropa kini berada di persimpangan jalan dalam ambisinya membangun ekonomi tekstil sirkular. Sebuah laporan terbaru bertajuk “Advancing Textile Circularity” yang dirilis oleh Boston Consulting Group (BCG) dan inisiatif upcycling ReHubs mengungkapkan kenyataan pahit: diperlukan investasi raksasa hingga 11 miliar euro (sekitar Rp188 triliun) untuk menskala teknologi daur ulang tekstil-ke-tekstil pada tahun 2035. Di tengah dorongan regulasi hijau yang kian ketat, industri mode justru menghadapi tembok besar berupa lonjakan limbah yang dipicu oleh kecanduan konsumen terhadap fast fashion.
Industri pakaian jadi global kembali berada di titik nadir setelah serangkaian guncangan eksternal yang mengancam stabilitas rantai pasok dunia. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk telah memicu kelangkaan energi yang akut dan lonjakan biaya input yang drastis. Federasi Pakaian Internasional (IAF) baru-baru ini mengeluarkan peringatan keras bahwa ketidakpastian ini bukan sekadar gangguan sementara, melainkan ujian bagi ketahanan fundamental industri tekstil yang selama ini sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Di tengah merosotnya permintaan dan membengkaknya biaya logistik, sektor ini dipaksa untuk meninggalkan pola lama dan beralih ke strategi yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.
Page 1 of 4