Meskipun menghadapi kondisi lesu di pasar dalam negeri, ekspor kapas Brasil mengalami peningkatan yang signifikan, demikian laporan dari Pusat Studi Lanjutan Ekonomi Terapan (CEPEA). Eksportir negara tersebut memanfaatkan permintaan internasional yang kuat di tengah aktivitas pasar yang berkurang di dalam negeri.

Pada bulan Maret, Turki menyaksikan peningkatan indeks harga konsumen (CPI) umum sebesar 3,16% dari bulan ke bulan (MoM) dan lonjakan mencengangkan sebesar 68,5% dari tahun ke tahun (YoY). Meskipun terjadi kenaikan yang signifikan ini, sektor pakaian dan alas kaki muncul sebagai penanda stabilitas, menampilkan kenaikan CPI tahunan terendah dibandingkan dengan kelompok-kelompok kunci lainnya, menurut data yang dirilis oleh Institut Statistik Turki.

Saat Turki merayakan peringatan ulang tahunnya yang ke-100 sebagai negara republik, industri pakaian negara ini telah menegaskan tekadnya untuk menjadi tujuan sumber alternatif yang signifikan, mengimbangi posisi Tiongkok dalam industri pakaian global. Komitmen ini muncul dalam konteks ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung, dan telah menjadi fokus utama Konferensi Pakaian Istanbul ke-16 yang baru-baru ini diadakan oleh Asosiasi Produsen Pakaian Turki (TGSD). Dalam konferensi tersebut, beberapa isu penting dibahas, termasuk ketertelusuran, keberlanjutan, dampak kecerdasan buatan terhadap desain, dan peraturan baru Uni Eropa yang memengaruhi industri pakaian. Ketua TGSD, Ramazan Kaya, dengan tegas menggarisbawahi perlunya adaptasi di tengah perubahan yang terjadi dalam industri pakaian global.

Kaya menyoroti pergeseran dari fast fashion ke slow fashion sebagai salah satu aspek penting yang harus diperhatikan. Hal ini mencerminkan kesadaran yang semakin meningkat di kalangan produsen dan konsumen tentang pentingnya keberlanjutan dalam industri pakaian. Slow fashion menekankan kualitas, ketahanan, dan pemakaian ulang, menghadirkan alternatif yang berkelanjutan terhadap tren konsumsi cepat yang sering menghasilkan limbah tekstil yang besar.

Selain itu, dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga telah merangsang pencarian solusi alternatif dalam rantai pasokan pakaian global. Turki, dengan sejarah panjangnya dalam produksi tekstil dan pakaian, memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang berkembang.

Dalam upayanya untuk menjadikan Turki sebagai pusat sumber alternatif yang menarik, industri pakaian negara ini harus memfokuskan perhatian pada aspek-aspek keberlanjutan dan sirkularitas. Ini mencakup pengurangan limbah tekstil, pemakaian bahan yang ramah lingkungan, dan penerapan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Keberlanjutan telah menjadi poin kunci dalam daya tarik Turki sebagai produsen pakaian yang responsif terhadap tuntutan konsumen yang semakin sadar akan dampak lingkungan.

Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa pakaian bukan hanya masalah gaya atau fungsionalitas, tetapi juga merupakan bentuk ekspresi seni dan kreativitas. Di sinilah peran kecerdasan buatan (AI) dalam desain pakaian menjadi relevan. Penggunaan AI dalam industri pakaian dapat memfasilitasi proses desain yang lebih efisien, memungkinkan eksperimen dengan berbagai konsep, dan menghasilkan produk yang lebih sesuai dengan keinginan konsumen.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi, Turki telah memahami pentingnya adaptasi dan inovasi dalam menjawab tuntutan global. Dengan fokus pada keberlanjutan, sirkularitas, dan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, Turki berpotensi untuk menjadi pemain kunci dalam industri pakaian global. Pada akhirnya, upaya ini bukan hanya tentang mengatasi ketegangan global, tetapi juga tentang membuka peluang baru dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian dan lingkungan global.

Pada bulan Maret, Turkiye menyaksikan kenaikan indeks harga konsumen (CPI) umum sebesar 3,16% secara bulanan (MoM) dan kenaikan mencengangkan sebesar 68,5% secara tahunan (YoY). Meskipun terjadi peningkatan yang signifikan ini, sektor pakaian dan alas kaki muncul sebagai penanda stabilitas, menampilkan kenaikan CPI tahunan terendah dibandingkan dengan kelompok-kelompok kunci lainnya, menurut data yang dirilis oleh Institut Statistik Turki.

Industri fesyen Eropa terus menunjukkan perhatian serius terhadap isu lingkungan dengan meluncurkan koleksi ramah lingkungan baru untuk musim gugur. Respons positif ini terjadi seiring dengan tuntutan konsumen yang semakin mendalam akan fesyen yang lebih berkelanjutan. Menurut survei terbaru dari McKinsey & Company, sebanyak 72% konsumen Eropa menyatakan kesiapan mereka untuk membayar ekstra demi produk fesyen yang lebih ramah lingkungan. Alasan di balik preferensi ini adalah keprihatinan yang meningkat terhadap dampak industri fesyen terhadap lingkungan serta semakin banyaknya konsumen yang mendambakan merek yang berpegang pada prinsip-prinsip etika.