Industri tekstil dan garmen Turki kembali membuktikan ketangguhannya di panggung internasional melalui penyelenggaraan edisi ke-9 Istanbul Fashion Connection (IFCO). Meskipun dunia tengah dibayangi oleh volatilitas ekonomi makro yang tidak menentu, pameran mode dua tahunan ini berhasil ditutup dengan catatan positif pada 7 Februari lalu. Selama empat hari di Istanbul Expo Center, sekitar 450 merek Turki memamerkan koleksi terbaru mereka, mulai dari pakaian wanita, pria, anak-anak, hingga gaun malam dan aksesori, membuktikan bahwa kreativitas tidak berhenti di tengah tantangan.
London Fashion Week (LFW) untuk musim Spring/Summer 2026 yang baru saja berakhir pada pertengahan Februari 2026 telah bertransformasi menjadi panggung pernyataan politik dan budaya yang paling berani di industri garmen global. Diselenggarakan oleh British Fashion Council (BFC) di jantung kota London, Inggris, ajang ini tidak hanya memamerkan estetika visual, tetapi juga menjadi bukti resiliensi industri kreatif Inggris di bawah kepemimpinan baru yang visioner. Edisi kali ini menandai tonggak sejarah penting karena merupakan gelaran besar pertama di bawah arahan Laura Weir sebagai CEO baru BFC, yang membawa misi "Designer-First" untuk memastikan keberlangsungan bisnis para talenta kreatif di tengah gejolak ekonomi dan kenaikan tarif perdagangan dunia.
Sektor ritel gaya hidup dan fesyen di Inggris mengawali tahun 2026 dengan napas yang terengah-engah. Berdasarkan data terbaru dari High Street Sales Tracker yang dirilis oleh firma penasihat bisnis BDO, penjualan ritel diskresioner hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 1,7 persen secara tahunan (YoY) pada Januari ini. Angka tersebut menjadi sinyal waspada bagi para pelaku usaha karena pertumbuhan yang terjadi masih tertinggal jauh di bawah tingkat inflasi, yang mengindikasikan bahwa volume penjualan secara riil sebenarnya sedang mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Era di mana perusahaan mode raksasa bisa dengan bebas membakar atau membuang tumpukan pakaian sisa yang tak laku akan segera berakhir. Uni Eropa baru saja mengadopsi langkah-langkah baru yang tegas di bawah regulasi ecodesign untuk produk berkelanjutan (ESPR). Mulai 19 Juli 2026, perusahaan besar di blok 27 negara tersebut dilarang keras menghancurkan pakaian, alas kaki, dan aksesori yang tidak terjual. Aturan ini merupakan upaya drastis Brussel untuk memangkas limbah dan menciptakan keadilan bagi perusahaan yang telah beralih ke model bisnis sirkular.
Industri tekstil Uni Eropa kini berada di persimpangan jalan yang krusial antara ambisi ramah lingkungan dan realitas teknis yang carut-marut. Sebuah laporan terbaru dari Centre for European Policy Studies (CEPS), sebuah lembaga pemikir terkemuka yang berbasis di Brussel, mengeluarkan peringatan keras bahwa kebijakan Digital Product Passport (DPP) milik Uni Eropa terancam gagal total dalam mendorong daur ulang tekstil skala besar. Masalah utamanya bukanlah ketiadaan teknologi daur ulang, melainkan adanya jurang data digital yang dalam dan rendahnya digitalisasi di sepanjang rantai nilai industri.
Page 1 of 2